Hampir
Hari ini hari senin, hujan... Kubuka mataku perlahan dan mendengar suara rintikan air hujan diluar beradu dengan bumi. Dengan tenaga yang ada ku dudukan tubuhku di tempat tidur. Lagi-lagi ku teringat dengannya. Malas rasanya tubuh ini untuk bangun dan memulai hari, tapi kupaksa diriku. Kuingat bahwa tidak ada kelas hari ini, yah, akhirnya ada yang menghibur hariku.
Begitu keluar dari kamar, kurasakan terpaan angin lembut menusuk tulang berasal dari hujan tersebut. Ku hirup udara segar dan kuhembuskan perlahan. Aku menuju ke teras depan dan ku duduk di kursi ayun hijau penuh debu dan karat. Ku tatap langit yang mendung dan bergulung seperti kapas dan lagi-lagi ku teringat dirinya. Saat ku mengelus tangannya, saat kita bercumbu, saat dia mengelus pipiku, saat dia melihat mataku dengan penuh kasih sayang dan rasa aman.
Sudah satu setengah tahun lebih, aku tidak bertemu dengannya dan sudah hampir sebulan aku lost contact dengannya. Aku yang memutuskan untuk tidak berhubungan lagi. Aku tidak ingin mengingatnya terus menerus dan berharap bahwa dia akan menjadi milikku. Sebenarnya dia tidak pernah menjadi milikku sepenuhnya, aku dan dia hanya memiliki masa-masa "hampir saja". Ternyata pada kenyataannya, dia jatuh hati pada orang lain dan kami hanya hampir menjadi pasangan.
Alasannya tidak ingin melanjutkan hubungan denganku sebagai pasangan karena dia merasa aku dan dia terlalu banyak perbedaan dan aku tidak memiliki waktu luang untuk bertemu dengannya. Dia juga pernah berkata bahwa kalau memang aku dan dia berjodoh maka pasti suatu hari akan bersatu. Haha, aku percaya bahwa kami memang tidak berjodoh.
Lamunanku terhenti karena suara klakson motor yang ada di luar mengejutkanku. Tukang pos..... mengantar sebuah surat tagihan kartu kredit untuk mamaku. Sambil memegang payung transparan kecil dengan hiasan garis-garis hijau biru dan pink aku menyambut tukang pos itu. Kuambil surat tersebut dan langsung menuju ke dalam rumah sambil berlari kecil. Ku letakkan surat tersebut di meja ruang keluarga agar mamaku bisa melihatnya nanti.
Dimanapun, kapanpun, dengan siapapun kau berada, aku hanya bisa berdoa yang terbaik untukmu... Walau yang kita lalui hanya sebatas hampir, aku akan mengingat dirimu sebagai orang yang ku sayang.
Begitu keluar dari kamar, kurasakan terpaan angin lembut menusuk tulang berasal dari hujan tersebut. Ku hirup udara segar dan kuhembuskan perlahan. Aku menuju ke teras depan dan ku duduk di kursi ayun hijau penuh debu dan karat. Ku tatap langit yang mendung dan bergulung seperti kapas dan lagi-lagi ku teringat dirinya. Saat ku mengelus tangannya, saat kita bercumbu, saat dia mengelus pipiku, saat dia melihat mataku dengan penuh kasih sayang dan rasa aman.
Sudah satu setengah tahun lebih, aku tidak bertemu dengannya dan sudah hampir sebulan aku lost contact dengannya. Aku yang memutuskan untuk tidak berhubungan lagi. Aku tidak ingin mengingatnya terus menerus dan berharap bahwa dia akan menjadi milikku. Sebenarnya dia tidak pernah menjadi milikku sepenuhnya, aku dan dia hanya memiliki masa-masa "hampir saja". Ternyata pada kenyataannya, dia jatuh hati pada orang lain dan kami hanya hampir menjadi pasangan.
Alasannya tidak ingin melanjutkan hubungan denganku sebagai pasangan karena dia merasa aku dan dia terlalu banyak perbedaan dan aku tidak memiliki waktu luang untuk bertemu dengannya. Dia juga pernah berkata bahwa kalau memang aku dan dia berjodoh maka pasti suatu hari akan bersatu. Haha, aku percaya bahwa kami memang tidak berjodoh.
Lamunanku terhenti karena suara klakson motor yang ada di luar mengejutkanku. Tukang pos..... mengantar sebuah surat tagihan kartu kredit untuk mamaku. Sambil memegang payung transparan kecil dengan hiasan garis-garis hijau biru dan pink aku menyambut tukang pos itu. Kuambil surat tersebut dan langsung menuju ke dalam rumah sambil berlari kecil. Ku letakkan surat tersebut di meja ruang keluarga agar mamaku bisa melihatnya nanti.
Dimanapun, kapanpun, dengan siapapun kau berada, aku hanya bisa berdoa yang terbaik untukmu... Walau yang kita lalui hanya sebatas hampir, aku akan mengingat dirimu sebagai orang yang ku sayang.
Comments
Post a Comment