Being Alone, Is It A Good Thing?
Okay, so, setelah menjalani hubungan 11 bulan 2 minggu yang dimana terjadi sekitar satu setengah tahun lalu, gue saat ini entah gimana masih belum bisa sebegitu terbuka hatinya sama seseorang.
Pembahasan ini udah sering banget terjadi sama temen-temen gue. Baik temen kampus, temen kantor, temen SD, dan "temen-temen" lainnya. Gue, hingga saat ini belum merasakan perasaan yang sebegitu berbinar-binarnya sama seseorang seperti gue sama mantan gue. Yang notaben nya, hubungan gue dengan mantan gue itu adalah hubungan romantis terlama yang pernah gue jalani.
Jujur, gue sayang banget sama mantan gue itu, bahkan, masih. Cuma gue tahu, bodoh untuk gue untuk mengharapkan dia balik sama gue. Toh, gue yang selingkuh dari dia (itu cerita lain lagi). Tapi gue sekarang udah berhenti harapin dia balik lagi. Mungkin aja kan seseorang bisa sayang ke orang tapi nggak berharap apa2 lagi? Kalo ngga mungkin, kenapa kira2?
Gue masih inget rasanya bener-bener sayang ke seseorang yang sebegitu sayangnya. Gue tahu kok kalo dia juga sayang gue, tapi disayangkan, sayangnya ga sama kayak gue sayang dia. Mungkin bukan sayangnya, lebih kepada keadaan kita masing-masing dalam hidup saat itu. Gue sudah diposisi dimana gue udah capek untuk main-main dalam memiliki hubungan, sedangkan dia masih perlu banyak mengeksplor pilihan hidupnya dan masij perlu main sama temen-temennya demi memenuhi ekspetasinya.
Nah, sekarang, setiap kali lagi kenalan sama orang baru, jujur gue cari orang yang mirip mantan gue. Kenapa? Gue sangat berharap bisa mendapatkan orang yang lebih compatible sama gue tapi dengan kebaikan seperti yang dia milikki. Oh, betapa craving nya gue saat gue melihat ada orang yang, bahkan, secara fisik mirip sama mantan gue tersebut.
Yaa, so far ada sekitar tiga orang yang mirip dia secara fisik dan secara attitude. Pemalu, cukup pendiam saat sekitarnya ramai, tapi saat diajak ngobrol, wawasannya luas, senyumnya manis, dan bisa merespon apapun bahasan yang lagi kita bahas dan bisa nyambung seamlessly ke pembahasan lainnya.
Yes, dia sempurna untuk gue. Atau, "versi gue" akan dia sempurna untuk gue? Hahaha, ya pastilah "versi gue". Karena semua orang memiliki kemampuan untuk memproyeksikan sifat seseorang dari kacamata nya masing2.
Anyway, balik ke pembahasan kenapa gue masih belum bisa membuka hati gue untuk orang baru yang dimana membuat gue masih sendiri saat ini. Ya, memang, paham saya bahwa ga ada yang memburu-burui saya untuk memiliki pasangan. Ya, memang, memiliki pasangan itu ngga selamanya lebih bahagia. Ya, sendiri iti juga bisa bahagia. Ya, semua pernyataan di atas ga ada salah kok. Cuma, hati gue pun kontradiktif. Saat gue kesepian, gue berharap ada yang nemenin gue. Pada saat gue lagi jengah sama kehidupan, gue butuh sendiri.
Hahaha, ya, buat yang baru kenal gue, se-drama itulah gue. Bahkan diotak gue pun, yang namanya overthinking sudah jadi hal yang lumrah. Lumrah sih lumrah, tapi lama-lama nyebelin juga ya... It consumes you!
Apa ya? Kenapa ya? Bagaimana ya? Siapa ya? Dimana ya? Kapan ya? (Lho, kok? Jadi 5W1H?)
Tapi pernah ada yang bilang, hati kita bisa serapuh itu dan bisa sekuat itu. Hati kita akan bilang kok ke kita kalo dia udah siap untuk mencinta. Pastinya dengan orang yang kita inginkan pastinya.
Ya gue sih alhamdulillah nya masih santai sih. Ngga sengebet dulu. Hahaha.
Comments
Post a Comment