Sudut Pandangku: Isu Mental
Jadi, seperti yang kita semua ketahui kalau kesehatan mental atau isu mental menjadi hal yang semakin lumrah untuk dibicarakan atau didiskusikan dibandinkan beberapa dekade lalu. Sekitar 30 sampai 20 tahun lalu, isu mental masih diremehkan oleh generasi-generasi sebelumnya. Untuk mereka saat seseorang memiliki isu mental, penyitas akan langsung dicap sebagai orang lemah, tidak memiliki keimanan, atau butuh didikan yang lebih keras.
Beda dengan saat ini yang dimana semakin banyak orang yang menganggap isu mental dan menyikapinya dengan serius juga. Salah satunya, dengan orang tersebut berobat ke psikiater atau psikolog. Lalu dibantu dengan terapi, obat, ataupun jenis bantuan lainnya.
Namun jika boleh jujur, sebagai orang yang kebetulan bersentuhan dekat dengan generasi yang lebih tua maupun yang lebih muda, saya memiliki pandangan sendiri saat sudah membahas mengenai isu mental. Mungkin pandangan saya akan banyak menimbulkan banyak opini tidak setuju, atau mungkin ada yang setuju. Namun semua opini tersebut sah-sah saja. Saya tidak butuh dibela dan saya tidak peduli jika ada yang tidak setuju. Kenapa? Sila baca kembali judulnya.
Oke, untuk saya pribadi, isu mental adalah hal yang sangat real. Hal yang valid kebenarannya. Saya pun pernah merasakannya dibeberapa kesempatan. Pertama, saya dulu adalah korban kekerasan fisik oleh orang terdekat saya. Hingga saat ini saya masih suka otomatis melindungi tubuh saya dengan tangan saat ada orang yang secara mengagetkan mengarahkan pukulannya ke arah saya, walaupun ujungnya hanya bercanda hanya untuk mengagetkan. Kedua, saya pernah mengalami kecelakaan mobil. Mobil saya terguling dan untungnya tidak ada korban jiwa.
Untuk peristiwa kedua, kebetulan saya sudah SMA, remaja. Kebetulan saya berasal dari didikan yang cukup keras. Baik secara fisik, maupun batin. Jadi saat kecelakaan tersebut terjadi, apa yang saya rasakan hanyalah rasa sakit fisik. Lagi pula disaat itu saya berusaha untuk kuat. Karena saya merasa jika saya tidak waspada, sesuatu buruk akan terjadi lagi. Namun, tanpa saya sadari, PTSD menyerang. Saat perjalanan pulang dengan mobil, setiap mobil melalui jalan yang tidak rata, saya yang dari posisi tidur lelap karena lelah, pasti terbangun dan merasa sedang berada di keadaan kecelakaan itu lagi. Berkali-kali terjadi, berkali-kali saya terbangun dan pada akhirnya tidur saya tidak nyenyak.
Jadi, ya, isu mental sangatlah nyata.
Namun... generasi saat ini... banyak oknum-oknum yang menjadikan isu mental sebagai "senjata". Menjadi isu mental sebagai konten, sebagai cara agar dikasihani, sebagai alat untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Jujur, saya muak. Mereka pikir dengan mendapatkan diagnosa resmi dari dokter, mereka sudah fix memiliki isu mental. Lalu mereka dengan arogannya menggunakan diagnosa itu untuk konten, rasa belas kasih dari netizen, dll.
Lalu, apakabar para tentara kita yang benar-benar punya PTSD? Bagaimana ibu-ibu yang benar-benar memiliki Baby Blues? Bagaimana orang-orang yang terkena musibah alam? Apakah mereka tidak memiliki isu mental? Saya yakin punya. Lalu apakah mereka lantas menjadikan keadaan mereka sebuah konten? "Tapi kan itu pilihan mereka yang tidak mau konsul dengan dokter jiwa." Serius? Apakah orang-orang itu privillaged seperti kalian-kalian oknum pencari konten?
Bayangkan, "Saya punya isu mental" sambil buat konten di apartemen mewahnya. Sambil menangis di depan laptop mewahnya. Sambil merekam dirinya yang panic attack di kamar estetiknya. Wow. Oke.
Anggap kalian memang punya isu mental. Lalu? Pantaskah untuk dijadikan konten? Lucu? Demi jempol virtual? Serius? Atau hanya untuk caper?
Kalau buat konten tentang isu mentalnya, kapan sembuhnya mas, mba? Orang kalau memang punya isu mental itu sebaiknya off-grid aja. Supaya hal-hal yang menjadi trigger bisa berkurang. Harusnya yaa.
"Lo ga tau apa yang terjadi sama gue! Keluarga gue dulu diinjek-injek sama keluarga besar gue karena orang tua gue nikah dengan orang yang bukan pilihan keluarga besar gue. Keluarga gue miskin, makanya keluarga diinjek-injek."
Sepupu-sepupu gue, cewe, tiga orang, keluarganya dipandang sebelah mata, bahkan sering drama sampai nangis-nangis. Apakah mereka dengan mudahnya konsul? Engga. Kenapa? Mereka gak cukup privillaged untuk bisa konsul ke dokter. Lalu apa yang mereka lakukan? They work their ass off! They are thriving in life, bahkan bisa ganti mobil dua kali.
Iya, paham, keadaan orang berbeda-beda. Betul, setuju banget. Kasus perorang gak bisa dipukul rata. Namun, apakah konsul ke dokter selalu jadi jawabannya? Jujur, engga. Masa sih ga ada mental pejuangnya sama sekali? Kalian berharap jadi orang yang normal setelah kalian konsul? Engga! Inget, di dunia ini ga ada manusia yang normal! Yang membedakan satu orang dengan orang lainnya adalah kadar ketidaknormalannya!
Saya pribadi punya pemikiran-penikiran gelap. Entah itu hal yang membuat orang lain merasa jijik ataupun dianggap aneh. Lalu apakah saya lantas merasa jadi golongan orang yang punya isu mental?
Again, isu mental itu nyata. Namun, isu mental yang menurut saya pantas untuk ditolong tenaga profesional adalah sebuah isu yang dimana benar-benar tidak bisa berfungsi sama sekali. Ingat, tidak bisa berfungsi sama sekali, bukan berfungsi normal! Tidak bisa berfungsi normal karena stres pekerjaan, wajar. Tidak bisa berfungsi sama sekali karena depresi akut, butuh pertolongan. Bertengkar dengan pasangan lalu membuat hati gusar, wajar. Bertengkar dengan pasangan namun pasangannya main fisik hingga luka, butuh pertolongan.
Jadi, saran, jangan menggampangkan isu mental. Masih banyak orang di luar sana yang benar-benar memiliki isu mental namun mereka tidak cukup beruntung hingga bisa konsul ke tenaga profesional. Punya masalah dikit jangan langsung dianggap depresi akut. Punya masalah, hadapi, cari solusi.
Iya, saya memang bukan dokter jiwa. Saya gak punya ilmu tinggi dalam bidang kejiwaan. Tapi saya juga engga bodoh. Saya tahu mana manusia yang benar-benar punya mental isu, mana yang manusia lemah.
Sorry, but I'm not sorry.
Oh ya, gue punya temen, dia korban kekerasan dari orang terdekat, setiap ada anak kecil yang dipukul orang tuanya, dia langsung panick attack. Lalu apakah dia menjadikan itu alasan untuk menghindari masalah? Engga, dia fight for it dan dia sukses menjadi orang yang dia mau. Dia sangat enjoy dengan hidupnya. Kok bisa? Konsul kah? Well, simply because dia berjuang. Bukan bersembunyi dibalik the-so-called mental illness.
There I said my piece.
Ciao!
Comments
Post a Comment