Hujan dimusim kemarau
Di luar rumah kudengar suara gemericik air berjatuhan beradu dengan atap rumahku. Siang itu aku sendiri karena semua orang rumah sedang ada acara masing-masing. Aku anak kedua dari 3 bersaudara, aku adalah putra kedua dari ibuku. Menurut pandanganku dunia ini mempunyai sesuatu yang lebih untukku. Tidak hanya secara harta saja, tetapi juga dalam hal pengalaman. Ibuku pastinya mengajarkan diriku hal yang mengikuti norma yang ada, tetapi aku merasa ada yang salah dari diriku ini. Aku merasa ingin keluar dari peraturan yang ada, tidak membatasi diriku dengan peraturan. Aku ingin merasakan hidup di duniaku sendiri. Hmm, sungguh gila aku ini, tidak akan pernah bisa aku berbuat sesuka diri ini.
Dalam kehidupan sehari-hari pun aku selalu mendapatkan banyak sekali perspektif yang dimana menurutku sungguh unik. Tetapi tidak jarang pula aku dicela oleh banyak orang dikarenakan perilaku diriku yang tidak layaknya orang pada umumnya. Aku tidak keberatan atas celaan-celaan tersebut, karena untukku celaan-celaan tersebut hanyalah bagian dari hidup yang dimana harus bisa kita terima. Karena untukku apabila tidak ada penderitaan tidak akan ada kesenangan.
Kembali ke siang hari itu, lagi-lagi aku merasa sedih, bukan karena aku melakukan sesuatu yang salah, tetapi mempunyai perasaan yang salah. Aku jatuh cinta kepada seorang temanku yang bisa dikatakan cukup dekat. Ada dimana hari yang kulewati bersamanya. Saat bersamanya diriku merasa nyaman dan aman.
Lagi-lagi banyak orang menganggapku aneh karena aku mempunyai orientasi seksual yang berbeda dengan orang pada umumnya. Tetapi dengan adanya perbedaan ini, aku merasa bisa mengambil keuntungannya dan hikmah dibalik semua cacian yang pernah aku terima dari banyak orang.
Ya, temanku tersebut merupakan seorang lelaki normal yang dimana dia mempunyai seorang pacar perempuan. Sebenarnya dia sudah tahu bahwa aku seorang bisexual dan aku sudah pernah menyatakan perasaanku kepadanya. Dia orang yang cukup asik dalam bersosialisasi, dia bisa menerima kekuaranganku -walaupun sebenarnya asik tidak asiknya seseorang bukan ditentukan sejauh apa dia bisa menerima orang- tetapi dia masih mau berteman dengaku.
Yang membuatku selalu tertarik kepadanya adalah bagaimana dia memperlakukan diriku. Senyumnya yang manis dengan lesung pipit yang menusuk jantungku, juga kata-katanya yang manis kepadaku. Tetapi apa daya, semua itu hanya ada dipikiranku saja. Aku tidak bisa memaksanya untuk suka (ataupun sayang) kepadaku.
Saat aku terbawa lamunanku, tiba-tiba aku terkejut dengan petir yang menyambar tidak jauh dari rumahku. Hujan semakin lebat dan rasa rinduku kepadanya semakin menjadi-jadi. Aku berusaha untuk tidak memikirnya tetapi selalu saja pikiranku terbang kearahnya. Aku bangun dari tempat tidurku dan menyalakan laptopku. Aku mengecek Facebook dan emailku.
Saat aku akan meng-klik namanya, tiba-tiba listrik di rumahku padam. Setengah kesal aku bangun dan meraih handphone ku. Dengan padamnya listrik aku menjadi sedikit takut dan aku memtuskan untuk meneleponya. Dengan segenap hati ku menunggu jawaban dari seberang sana, tiba-tiba ada suara tetapi suara tersebut seperti suara hujan dan ada yang berbicara dengan sangat lirih, "Tolong, to.....long......." dan terputus..... (bersambung)
Comments
Post a Comment