Menjadi seorang LGBT di Indonesia - Part 1 (?)
Kalian tahu dong LGBT? Yes, Lebian, Gay, Bisexual, and Transgender. Sebuah kelompok yang memiliki seksualitas yang berbeda dari heterosexual yang notabennya mereka tertarik pada lawan jenis. Namun untuk orang-orang LGBT, kami tertarik pada sesama jenis. Namun untuk trasngender sendiri, well, jujur sebagai bagian dari LGBT pun gue gak berani untuk menjabarkan terlalu panjang lebar karena banyak hal-hal yang masih perlu dipahami.
Nah, kali ini gue mau membahas bagaimana sih menjadi bagian dari LGBT di Indonesia. Sebagai negara yang mayoritas agamanya adalah muslim dan memiliki pandangan yang cukup jelas bahwa LGBT merupakan sebuah hal yang dilarang di agama, baik muslim, maupun agama lainnya. Namun di sini gue gak bermaksud untuk menyerang para pemeluk kepercayaan tersebut. Kenapa? Well, mereka pun punya prinsip layaknya gue sebagai bagian dari LGBT, so I respect their beliefs.
Munafik sih kalau gue ga berharap untuk dihormati apa yang gue percayai, namun, gue gak bisa memaksa siapapun untuk punya pemikiran yang sama dengan gue. Jadi, ya biarkan orang-orang tersebut hidup sesuai dengan ajaran yang mereka pegang teguh. Selama mereka gak ganggu gue sih ya gue selow aja. Hehehe. Bahkan ya, kalau gue baru kenal seseorang di tempat kerja atau di mana pun, gue akan observe apakah mereka termasuk homophobes atau bukan. Homophobes adalah fobia akan orang-orang LGBT, atau setidaknya dengan orang-orang yang memiliki seksualitas selain heteroseksual.
Nah, setelah gue tahu mereka homophobes atau bukan, baru deh gue tahu harus gimana. Terkadang gue nanya ke mereka, "Hai, ya, gue gay, lo ada masalah kah dengan seksualitas gue? Kalau ada dan lo ga mau berinteraksi dengan gue, sangat gak apa-apa." Setelah gue mengeluarkan pernyatan tersebut, jujur gue lega. Kenapa? Gue tuh paling sulit untuk berpura-pura dalam masalah pergaulan. Gue pengen bisa temenan sama orang dan gak khawatir mereka akan merasa yang aneh-aneh dengan seksualitas gue. I've been there and I don't want to relive it over and over again.
Anyway, gue sangat bersyukur karena gue memiliki circle pertemanan yang cukup baik. Some of them are really religious, some of them are also part of LGBT community and we're getitng along just fine! Dan suasan pertemanan seperti inilah yang gue mau pertahankan sampai akhir hidup gue. Dan jujur aja, tantangannya lumayan berat sih dalam memilih teman. Namun, lagi, gue bersyukur dengan perkembangan zaman dan society yang semakin lama semakin dinamis dan diverse. Gak homogen gitu. Alias ga membosankan.
Menjadi seorang bagian dari LGBT di Indonesia itu banyak banget dramanya. Well, we are all queens, so what do you expect, guys? LOL. Mulai dari drama berebutan laki, terus jadian sama mantannya temen, seks dengan gebetan yang ternyata adalah gebetan dari mantan, hadeeehhh. Dramanya ngalah-ngalahin serial Grey's Anatomy. Hahahaha. Tapi, kehidupan seorang LGBT tuh lebih dari percintaan dan seks doang. We also live our life like a hetero does. Kita punya pekerjaan yang gak kalah hebat dari hetero.
Again, gak bermaksud untuk menyerang siapapun yaa, namun ya kan hanya kasih tahu faktanya gitu lho. Kenape sik pada nih marah aje. Hahaha.
Gue tahu kok bahwa banyak banget kisah menjadi seorang LGBT di Indonesia, namun gak mungkin gue ceritain satu-satu. Karena kisah mereka itu unik. Setiap orang punya kisahnya masing-masing dan selalu berbeda. Jadi, kalau kalian punya kisah kalian sebagai seorang LGBT di Indonesia, yuk share aja di kolom komentar yaa.
Kalau kisah gue sendiri, gue udah mulai sadar gue seorang gay adalah waktu gue kelas 3 SMP, gue suka sama kakak kelas gue, berinisial Y. Doi mirip kayak Zumi Zola, wew. Ya, secakep itu, dulu. Sekarang ternyata doi biasa aja di mata gue. Hahhaaha, udah beristri juga sik, so, yeah. Nah, gue mulai tuh berani buka ke beberapa orang. Namun gue masih full-on denial mode. Gue merasa kalau gue masih belum bisa terima seksualitas gue.
Gue tahan semua perasaan gue sampe kelas 2 SMA. Sampai akhirnya gue kena panic attack dan gue cuma bisa nangis dan teriak-teriak di kelas saat pelajaran berlangsung. Akhirnya gue cuma di bawa ke UKS dan akhirnya tidur sampai jam pulang sekolah. Juga, gue ketahuan sama nyokap gue.
Jaman SMA, nyokap masih suka cek SMS di hape gue. Nah, suatu hari nyokap lihat SMS gue dengan seorang cowo yang isinya cukup jelas menyatakan bahwa gue gay. Setelah itu nyokap nanya siapa yang SMS-an kayak gitu. Gue hanya bisa boong saat itu. Nah, setelah gue boong, gue hanya bisa terdiam selama 10 menit. Selama 10 menit itu gue berpikir sangat keras, "Apakah gue akan terus bohong begini selama-lamanya, atau gue akan jadi orang yang jujur sejujur-jujurnya?"
Daaaaaaaaaaannnn, ya, gue akhirnya jujur ke nyokap. Setelah nyokap tahu itu gue, nyokap cuma bisa nangis dan kecewa. Oh, dan saat nyokap nangis, sumpah, hujan turun dengan derasnya. Ditambah petir. HAHAHAHAHA, drama yeee come out nya gue. Setelah hari itu, gue gak pernah menyembunyikan siapa gue. Gue selalu menjadi diri sendiri, for better or for worse.
And it sticks, really hard. Sejak itu gue selalu berusaha jujur walau lebih banyak sakitnya, namun gue jadi tahu bahwa dibalik kejujuran, ada yang namanya kedewasaan dan kebijakkan. Membuat kita belajar bahwa hal baik akan muncul bagi orang jujur. Anyway, kayaknya untuk saat ini segitu dulu. Mungkin lain kali akan gue lanjutin pengalaman gue menjadi seorang gay di Indonesia. Or maybe not, we'll see...
Thank you for reading!
Nah, kali ini gue mau membahas bagaimana sih menjadi bagian dari LGBT di Indonesia. Sebagai negara yang mayoritas agamanya adalah muslim dan memiliki pandangan yang cukup jelas bahwa LGBT merupakan sebuah hal yang dilarang di agama, baik muslim, maupun agama lainnya. Namun di sini gue gak bermaksud untuk menyerang para pemeluk kepercayaan tersebut. Kenapa? Well, mereka pun punya prinsip layaknya gue sebagai bagian dari LGBT, so I respect their beliefs.
Munafik sih kalau gue ga berharap untuk dihormati apa yang gue percayai, namun, gue gak bisa memaksa siapapun untuk punya pemikiran yang sama dengan gue. Jadi, ya biarkan orang-orang tersebut hidup sesuai dengan ajaran yang mereka pegang teguh. Selama mereka gak ganggu gue sih ya gue selow aja. Hehehe. Bahkan ya, kalau gue baru kenal seseorang di tempat kerja atau di mana pun, gue akan observe apakah mereka termasuk homophobes atau bukan. Homophobes adalah fobia akan orang-orang LGBT, atau setidaknya dengan orang-orang yang memiliki seksualitas selain heteroseksual.
Nah, setelah gue tahu mereka homophobes atau bukan, baru deh gue tahu harus gimana. Terkadang gue nanya ke mereka, "Hai, ya, gue gay, lo ada masalah kah dengan seksualitas gue? Kalau ada dan lo ga mau berinteraksi dengan gue, sangat gak apa-apa." Setelah gue mengeluarkan pernyatan tersebut, jujur gue lega. Kenapa? Gue tuh paling sulit untuk berpura-pura dalam masalah pergaulan. Gue pengen bisa temenan sama orang dan gak khawatir mereka akan merasa yang aneh-aneh dengan seksualitas gue. I've been there and I don't want to relive it over and over again.
Anyway, gue sangat bersyukur karena gue memiliki circle pertemanan yang cukup baik. Some of them are really religious, some of them are also part of LGBT community and we're getitng along just fine! Dan suasan pertemanan seperti inilah yang gue mau pertahankan sampai akhir hidup gue. Dan jujur aja, tantangannya lumayan berat sih dalam memilih teman. Namun, lagi, gue bersyukur dengan perkembangan zaman dan society yang semakin lama semakin dinamis dan diverse. Gak homogen gitu. Alias ga membosankan.
Menjadi seorang bagian dari LGBT di Indonesia itu banyak banget dramanya. Well, we are all queens, so what do you expect, guys? LOL. Mulai dari drama berebutan laki, terus jadian sama mantannya temen, seks dengan gebetan yang ternyata adalah gebetan dari mantan, hadeeehhh. Dramanya ngalah-ngalahin serial Grey's Anatomy. Hahahaha. Tapi, kehidupan seorang LGBT tuh lebih dari percintaan dan seks doang. We also live our life like a hetero does. Kita punya pekerjaan yang gak kalah hebat dari hetero.
Again, gak bermaksud untuk menyerang siapapun yaa, namun ya kan hanya kasih tahu faktanya gitu lho. Kenape sik pada nih marah aje. Hahaha.
Gue tahu kok bahwa banyak banget kisah menjadi seorang LGBT di Indonesia, namun gak mungkin gue ceritain satu-satu. Karena kisah mereka itu unik. Setiap orang punya kisahnya masing-masing dan selalu berbeda. Jadi, kalau kalian punya kisah kalian sebagai seorang LGBT di Indonesia, yuk share aja di kolom komentar yaa.
Kalau kisah gue sendiri, gue udah mulai sadar gue seorang gay adalah waktu gue kelas 3 SMP, gue suka sama kakak kelas gue, berinisial Y. Doi mirip kayak Zumi Zola, wew. Ya, secakep itu, dulu. Sekarang ternyata doi biasa aja di mata gue. Hahhaaha, udah beristri juga sik, so, yeah. Nah, gue mulai tuh berani buka ke beberapa orang. Namun gue masih full-on denial mode. Gue merasa kalau gue masih belum bisa terima seksualitas gue.
Gue tahan semua perasaan gue sampe kelas 2 SMA. Sampai akhirnya gue kena panic attack dan gue cuma bisa nangis dan teriak-teriak di kelas saat pelajaran berlangsung. Akhirnya gue cuma di bawa ke UKS dan akhirnya tidur sampai jam pulang sekolah. Juga, gue ketahuan sama nyokap gue.
Jaman SMA, nyokap masih suka cek SMS di hape gue. Nah, suatu hari nyokap lihat SMS gue dengan seorang cowo yang isinya cukup jelas menyatakan bahwa gue gay. Setelah itu nyokap nanya siapa yang SMS-an kayak gitu. Gue hanya bisa boong saat itu. Nah, setelah gue boong, gue hanya bisa terdiam selama 10 menit. Selama 10 menit itu gue berpikir sangat keras, "Apakah gue akan terus bohong begini selama-lamanya, atau gue akan jadi orang yang jujur sejujur-jujurnya?"
Daaaaaaaaaaannnn, ya, gue akhirnya jujur ke nyokap. Setelah nyokap tahu itu gue, nyokap cuma bisa nangis dan kecewa. Oh, dan saat nyokap nangis, sumpah, hujan turun dengan derasnya. Ditambah petir. HAHAHAHAHA, drama yeee come out nya gue. Setelah hari itu, gue gak pernah menyembunyikan siapa gue. Gue selalu menjadi diri sendiri, for better or for worse.
And it sticks, really hard. Sejak itu gue selalu berusaha jujur walau lebih banyak sakitnya, namun gue jadi tahu bahwa dibalik kejujuran, ada yang namanya kedewasaan dan kebijakkan. Membuat kita belajar bahwa hal baik akan muncul bagi orang jujur. Anyway, kayaknya untuk saat ini segitu dulu. Mungkin lain kali akan gue lanjutin pengalaman gue menjadi seorang gay di Indonesia. Or maybe not, we'll see...
Thank you for reading!
Comments
Post a Comment