Menjadi Seorang LGBT di Indonesia - Part 3 (First Love)
Okay, so, setelah mengalami yang namanya come out ke orang tua, lalu merasakan yang namanya pengalaman seks pertama. Akhirnya sampailah gue mengalami yang namanya cinta pertama. Well, sebenernya agak bias sih yang namanya cinta pertama, karena jujur gue gak tahu apa yang bisa dikriteriakan sebagai cinta pertama. Nah, maka dari itu, ini adalah cinta pertama versi gue. Toh selama blog ini adalah punya gue, gue akan menuliskan banyak hal yang memang dari sudut pandang gue.
Anyway, I digress, lanjut.
So, lagi-lagi gue ketemu sama doi di website yang sama yang pernah gue ceritain di part sebelumnya. Setelah beberapa kali bertukar pesan, akhirnya kami memutuskan untuk ketemu. Gue masih inget kita komunikasi melalui BBM, alias Blackberry Messenger. Saat itu gue udah semester 3 pas kuliah. Gue pertama kali ketemu dia di sebuah resto cepat saji di daerah Senopati. Well, yeah, big surprise, gue sangat suka kopi darat di resto cepat saji karena udah pasti gue suka makanannya, kalau pun lagi gak mau makan besar, ada pilihan lain selain nasi.
Hal lucu yang masih gue inget, dia hari itu pake baju biru muda. Dia dateng dengan senyumnya yang semanis yang gue lihat di profile picture BBM nya, dengan parfum Davidoff Cool Water for Men. Ya, parfum itu masih menjadi parfum favorit gue sampai saat ini dan masih mengingatkan gue momen itu. Momen dimana gue merasa menjadi manusia seutuhnya dan merasakan yang namanya cinta. Buat kalian yang mungkin belum pernah merasakannya, gue akan coba gambarin sebisa mungkin.
Rasanya itu ya, hati kalian berbunga, perut kalian rasanya bergejolak campuran grogi, excited, dan bahagia. Kalian ga bisa berhenti senyum sepanjang ketemuan dan rasanya damai dihati sangat jelas terasa. Setiap sel dalam tubuh rasanya setuju dengan apa yang mata kalian lihat dan ketertarikan satu sama lain sungguh nyata adanya. Hahahaha, entah kalian bisa bayanginnya apa ngga, namun itu yang gue rasain.
Kami bertemu sekitar 2 jam, ngobrol mengenai banyak hal. Hingga di satu titik gue inget kalau dia itu dukung tim Belanda di piala dunia tahun itu. So, kalian bisa tebak lah ya kira-kira tahun berapa. Dia suka banget tim Belanda karena dia ada sedikit keturunan Belanda. Oh, ya, dia bisa nyanyi. Suaranya manis, tipikal Glen Fredly campur Mike Mohede. Lalu, pada saat mau berpisah, dia ajak gue ke toilet. Eng ing eng, doi ternyata cium gue di bibir. Gosh, seorang Mpi yang saat itu masih tergolong polos, dicium oleh orang yang ia sangat tertarik. Damn, one of the best night, ever.
Lalu kami melanjutkan komunikasi hingga pertemuan selanjutnya. Pada pertemuan selanjutnya kami bertemu di salah satu resto cepat saji di daerah Bulungan, YA, LAGI-LAGI RESTO CEPAT SAJI! I KNOW! STOP EMPHASIZING ON THAT, PI! Anyway, sayangnya pertemuan kedua itu bentrok dengan jadwal latihan gue paduan suara. So, gue bilang sama dia kalau gue harus latihan paduan suara dulu sampai jam 3 dan akan balik lagi ke resto tersebut.
So, selama gue latihan, dia nungguin gue, jujur gue seneng banget ngerasa ada yang nungguin gue. Karena selama 20 sekian tahun gue hidup, itu pertama kalinya gue merasa keberadaan gue sangat diharapkan dan gue pun berharap yang sama, yaitu bisa berada disitu bersama dia. Jam 3 tiba, dengan gesit gue izin untuk langsung cabut, karena biasanya habis latihan gue pasti nongkrong, tapi kali ini gue bener-bener langsung hilang. Sepuluh menit gue sampe di tempat dia nunggu.
Kejadian berikutnya yang ngebuat gue merasa terenyuh dan jatuh cinta sama dia saat itu juga. Gue samperin dia di salah satu halte bus yang ada di Bulungan itu, dan lihat dia sibuk dengan bacaannya. Lalu, semakin mendekat, makin jelas apa yang dia baca. Tahu dia baca apa? Komik Doraemon. Nope, gue ga sebegitu fansnya sama Doraemon, namun melihat dia baca komik di halte bus, nungguin gue. HEY, GUE LAGI DI NOVEL TEENLIT APA GIMANA NIH???
Lalu kami melanjutkan kencan kami dan nongkrong di salah satu convenient store yang cukup hits pada jamannya di Bulungan itu. Kamu mencari tempat duduk dan menyeruput slurpee sambil menikmati satu dua batang rokok. Ah, sore yang sejuk, ditambah ngobrol bersama orang yang gue suka, bahkan jatuh cinta pada saat itu. Damn.
Lalu, setelah 2 jam kami ngobrol, dia harus pulang karena rumahnya yang cukup jauh dan ia takut ketinggalan bus terakhir. So, gue anterin dia ke tempat bus nya lewat. Kami berjalan di jembatan penyebrangan yang cukup sepi, lalu dia genggam tangan gue. Oh. My. Gosh! Untung jantung gue sehat, kalo ngga, bisa-bisa serangan jantung gue. Sumpah, muka gue anget. Bener-bener gak nyangka dia berani pegang tangan gue di tempat umum.
Sampe lah di tempat dia nunggu bus.
Gak lama bus dia sampe.
Pas dia mau lepas tangannya, gue tahan genggamannya. Terus dia lihat balik ke arah muka gue dan gue bilang ke dia, "Masa aku udah kangen deh." Terus dia senyum dan ketawa kecil sambil bilang, "Kan nanti kita ketemu lagi. Aku pulang dulu ya." Disitu gue hampiiiiiiirrr aja nangis ngerengek supaya dia gak balik. Kalo gue ga inget itu tempat umum, mungkin udah kejadian. Dan akhirnya gue lepas tangan dia dan ngeliat dia naik bus.
Gue jalan ke tempat gue parkir motor dengan perasaan campur aduk. Antara bahagia setengah mati, dan sedih karena harus pisah sementara.
Namun sayang hubungan kita nggak lama karena guenya yang masih mudah banget dan ga bisa maintain hubungan. So, kami pisah jalan. Eh tapiiiii, 6 tahun kemudian kami ketemu lagi, melalui aplikasi. Gue main ke kosan dia. Ya kalian tahulah apa yang terjadi di kosan. Namun, setelah 6 tahun, perasaan tersebut sudah hilang. Hehehe, kami sudah baik-baik saja dan melanjutkan hidup masing-masing tanpa satu sama lain.
So, yeah, itu pengalaman cinta pertama gue. So, next time gue akan ceritain pengalaman gue ngedate "Bad Boy". And trust me, it will be a juicy story!
Anyway, I digress, lanjut.
So, lagi-lagi gue ketemu sama doi di website yang sama yang pernah gue ceritain di part sebelumnya. Setelah beberapa kali bertukar pesan, akhirnya kami memutuskan untuk ketemu. Gue masih inget kita komunikasi melalui BBM, alias Blackberry Messenger. Saat itu gue udah semester 3 pas kuliah. Gue pertama kali ketemu dia di sebuah resto cepat saji di daerah Senopati. Well, yeah, big surprise, gue sangat suka kopi darat di resto cepat saji karena udah pasti gue suka makanannya, kalau pun lagi gak mau makan besar, ada pilihan lain selain nasi.
Hal lucu yang masih gue inget, dia hari itu pake baju biru muda. Dia dateng dengan senyumnya yang semanis yang gue lihat di profile picture BBM nya, dengan parfum Davidoff Cool Water for Men. Ya, parfum itu masih menjadi parfum favorit gue sampai saat ini dan masih mengingatkan gue momen itu. Momen dimana gue merasa menjadi manusia seutuhnya dan merasakan yang namanya cinta. Buat kalian yang mungkin belum pernah merasakannya, gue akan coba gambarin sebisa mungkin.
Rasanya itu ya, hati kalian berbunga, perut kalian rasanya bergejolak campuran grogi, excited, dan bahagia. Kalian ga bisa berhenti senyum sepanjang ketemuan dan rasanya damai dihati sangat jelas terasa. Setiap sel dalam tubuh rasanya setuju dengan apa yang mata kalian lihat dan ketertarikan satu sama lain sungguh nyata adanya. Hahahaha, entah kalian bisa bayanginnya apa ngga, namun itu yang gue rasain.
Kami bertemu sekitar 2 jam, ngobrol mengenai banyak hal. Hingga di satu titik gue inget kalau dia itu dukung tim Belanda di piala dunia tahun itu. So, kalian bisa tebak lah ya kira-kira tahun berapa. Dia suka banget tim Belanda karena dia ada sedikit keturunan Belanda. Oh, ya, dia bisa nyanyi. Suaranya manis, tipikal Glen Fredly campur Mike Mohede. Lalu, pada saat mau berpisah, dia ajak gue ke toilet. Eng ing eng, doi ternyata cium gue di bibir. Gosh, seorang Mpi yang saat itu masih tergolong polos, dicium oleh orang yang ia sangat tertarik. Damn, one of the best night, ever.
Lalu kami melanjutkan komunikasi hingga pertemuan selanjutnya. Pada pertemuan selanjutnya kami bertemu di salah satu resto cepat saji di daerah Bulungan, YA, LAGI-LAGI RESTO CEPAT SAJI! I KNOW! STOP EMPHASIZING ON THAT, PI! Anyway, sayangnya pertemuan kedua itu bentrok dengan jadwal latihan gue paduan suara. So, gue bilang sama dia kalau gue harus latihan paduan suara dulu sampai jam 3 dan akan balik lagi ke resto tersebut.
So, selama gue latihan, dia nungguin gue, jujur gue seneng banget ngerasa ada yang nungguin gue. Karena selama 20 sekian tahun gue hidup, itu pertama kalinya gue merasa keberadaan gue sangat diharapkan dan gue pun berharap yang sama, yaitu bisa berada disitu bersama dia. Jam 3 tiba, dengan gesit gue izin untuk langsung cabut, karena biasanya habis latihan gue pasti nongkrong, tapi kali ini gue bener-bener langsung hilang. Sepuluh menit gue sampe di tempat dia nunggu.
Kejadian berikutnya yang ngebuat gue merasa terenyuh dan jatuh cinta sama dia saat itu juga. Gue samperin dia di salah satu halte bus yang ada di Bulungan itu, dan lihat dia sibuk dengan bacaannya. Lalu, semakin mendekat, makin jelas apa yang dia baca. Tahu dia baca apa? Komik Doraemon. Nope, gue ga sebegitu fansnya sama Doraemon, namun melihat dia baca komik di halte bus, nungguin gue. HEY, GUE LAGI DI NOVEL TEENLIT APA GIMANA NIH???
Lalu kami melanjutkan kencan kami dan nongkrong di salah satu convenient store yang cukup hits pada jamannya di Bulungan itu. Kamu mencari tempat duduk dan menyeruput slurpee sambil menikmati satu dua batang rokok. Ah, sore yang sejuk, ditambah ngobrol bersama orang yang gue suka, bahkan jatuh cinta pada saat itu. Damn.
Lalu, setelah 2 jam kami ngobrol, dia harus pulang karena rumahnya yang cukup jauh dan ia takut ketinggalan bus terakhir. So, gue anterin dia ke tempat bus nya lewat. Kami berjalan di jembatan penyebrangan yang cukup sepi, lalu dia genggam tangan gue. Oh. My. Gosh! Untung jantung gue sehat, kalo ngga, bisa-bisa serangan jantung gue. Sumpah, muka gue anget. Bener-bener gak nyangka dia berani pegang tangan gue di tempat umum.
Sampe lah di tempat dia nunggu bus.
Gak lama bus dia sampe.
Pas dia mau lepas tangannya, gue tahan genggamannya. Terus dia lihat balik ke arah muka gue dan gue bilang ke dia, "Masa aku udah kangen deh." Terus dia senyum dan ketawa kecil sambil bilang, "Kan nanti kita ketemu lagi. Aku pulang dulu ya." Disitu gue hampiiiiiiirrr aja nangis ngerengek supaya dia gak balik. Kalo gue ga inget itu tempat umum, mungkin udah kejadian. Dan akhirnya gue lepas tangan dia dan ngeliat dia naik bus.
Gue jalan ke tempat gue parkir motor dengan perasaan campur aduk. Antara bahagia setengah mati, dan sedih karena harus pisah sementara.
Namun sayang hubungan kita nggak lama karena guenya yang masih mudah banget dan ga bisa maintain hubungan. So, kami pisah jalan. Eh tapiiiii, 6 tahun kemudian kami ketemu lagi, melalui aplikasi. Gue main ke kosan dia. Ya kalian tahulah apa yang terjadi di kosan. Namun, setelah 6 tahun, perasaan tersebut sudah hilang. Hehehe, kami sudah baik-baik saja dan melanjutkan hidup masing-masing tanpa satu sama lain.
So, yeah, itu pengalaman cinta pertama gue. So, next time gue akan ceritain pengalaman gue ngedate "Bad Boy". And trust me, it will be a juicy story!
Comments
Post a Comment