Pintu Tak Berkunci | Bab 3: Bram
Bram adalah seorang pria yang memiliki kehidupan yang cukup normal. Berasal dari keluarga yang cukup terpelajar dan serba berkecukupan namun tidak berlebih. Bram merupakan anak yang cukup berbakti kepada orang tuanya dan jarang sekali "bandel" di sekolah. Mungkin karena Bram dikelilingi oleh teman-temannya yang cukup berprestasi dan rajin dalam belajar sehingga Bram terbawa dalam pergaulan yang cukup sehat. Bisa disimpulkan Bram merupakan orang yang cukup "lurus-lurus" saja dalam menjalani hidup.
Bahkan dalam percintaan pun Bram hanya pernah pacaran sebanyak tiga kali dan dengan jangka waktu yang cukup lama. Bram memang tipe orang yang suka dengan konsistensi dan kestabilan dalam hidupnya. Terlihat dari caranya meraih apa yang Bram mau. Ia rajin menabung dan dapat mengontrol dirinya dari sifat konsumtif. Hal tersebut menjadi sebuah kualitas yang cukup baik bagi Bram.
Bram juga adalah seorang suami dan seorang ayah, Keluarga kecilnya yang bahagia menjadi kebahagiaan Bram saat ini. Hampir setiap kesempatan, Bram menyempatkan dirinya untuk bisa melakukan video call dengan anaknya. Dan setiap kali Bram melihat anaknya, terpancar senyuman yang sangat bahagia dari wajahnya.
Beberapa minggu belakangan ini pikiran Bram sedang sedikit dipenuhi dengan kejadian yang Ia alami. Ya, Bram belakangan ini sedang memikirkan J, teman sekantornya yang dimana nampaknya Bram memiliki rasa terhadap J. Bram berpikir semua ini cukup gila baginya karena sesungguhnya Bram belum pernah menyukai orang lain selain istrinya saat ini, apalgi menyukai seorang laki-laki. Rasa suka Bram bercampur aduk dengan rasa gelisah, khawatir. Bram khawatir semua ini akan membuat hidupnya berantakan.
Disisi lain perasaan Bram terhadap J semakin besar setiap harinya. Bram sangat menikmati setiap saat yang ia habiskan bersama J. Bram merasa ini adalah sesuatu yang baru dan sangat menarik baginya. Setiap saat bersama J tidak pernah membosankan. Bahkan Bram pernah sekali mengenalkan J kepada anaknya melalui salah satu sesi video callnya. Bram memperkenalkan J sebagai "Om Lucu". Ya, Bram merasa J adalah orang yang sangat humoris dan hal tersebut membuat Bram sangat terkesan.
Selain itu Bram juga teringat dengan kejadian saat J ditelepon oleh Tora. Saat itu Bram merasa sedikit cemburu dan tidak tahu harus berbuat apa. Ketidakmampuan Bram untuk mengungkapkan perasaannya terhadap J membuat Bram sedikit merasa frustasi. Bram sangat ingin untuk bisa mengungkapkan perasaannya namun semua itu terhenti karena Bram masih teringat dengan keluarganya di rumah. Menyatakan perasaan kepada J bisa menjadi sebuah pemicu banyak kemungkinan. Entah itu baik maupun buruk.
Maka dari itu untuk saat ini Bram memutuskan untuk tidak menyatakan apapun terhadap J. Bram merasa ini adalah keputusan terbaik untuk saat ini. Bram tidak ingin merusak apa yang ia punya saat ini dengan J.
Disuatu hari yang cukup sibuk di kantor, Bram memutuskan untuk menghampiri J yang sedang duduk sendiri di ruangan merokok. Namun saat Bram ingin menghampiri J, Bram melihat J sedang sibuk menelepon seseorang. Bram melihat wajah J yang dipenuhi dengan senyum manis J. Hati Bram sesaat terasa sakit, Bram curiga J sedang menelepon Tora. Bram hafal senyum yang sama yang ia lihat saat Tora menelepon J. Bram mengurungkan niatnya untuk menghampiri J dan memutuskan untuk ke toilet.
Beberapa jam kemudian tibalah saatnya Bram untuk pulang, Bram pamit kepada teman-teman satu timnya dan melangkahkan kakinya ke arah parkiran. Saat Bram baru saja membuka pintu utama, Bram melihat J yang sedang berbicara dengan seseorang. Seorang laki-laki tinggi, memakai Polo Shirt hitam, jeans, dan rambut hitam pendek klimis. Lagi-lagi hati Bram seperti tersayat, Bram yakin itu pasti Tora. Pria yang bisa membuat J tersenyum lebar.
Tidak lama mereka bercengkrama, J masuk ke sebuah mobil yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Terlihat Tora membukan pintu untuk J. Muka Bram merah padam dan terasa panas. Bram yang penuh amarah jalan menuju motornya. Bram merasa sangat kesal dan mengepalkan tangannya dengan sangat kencang. Bram berusaha meredam amarahnya dengan menarik nafas panjang berkali-kali sebelum ia memulai perjalanan pulangnya.
Setelah beberapa menit akhirnya Bram berhasil meredam amarahnya. Walaupun hatinya masih sedikit kalut, namun Bram berusaha untuk berpikiran logis. Tidak seharusnya Bram merasa seperti itu, Bram seharusnya merasa bahagia karena J bahagia. Untuk Bram saat ini, keadaan terideal adalah melihat J bahagia. Untuk Bram, kebahagiaan J adalah yang terpenting saat ini. Karena sebagaimanapun Bram ingin membahagiakan J, Bram sadar bahwa itu adalah hal yang tidak mungkin terjadi.
Dengan sedih Bram melanjutkan perjalanan pulangnya. Perjalanan pulang kali ini terasa panjang bagi Bram dikarenakan kejadian tadi. Entah mengapa Bram masih sulit untuk bisa bersikap biasa saja saat J bertemu dengan Tora. Sempat terbersit dipikiran Bram untuk menanyakan langsung hubungan J dengan Tora. Namun berkali-kali Bram mencari alasan bagaimana caranya untuk menanyakan ke arah sana tanpa terdengar cemburu atau terang-terangan menyatakan perasaannya kepada J.
Comments
Post a Comment