Happy Days
Sudah tiga tahun lebih sejak COVID menyerang muka bumi, dan nampaknya sebagian besar manusia masih bisa selamat dari pandemi ini. Vaksin sudah ditemukan, jumlah pasien semakin turun, sekalinya pun ada pasien, sekarang sudah bisa ditangani layaknya flu biasa. Selama dua tahun itu banyak sekali yang terjadi, banyak orang yang kehilangan orang-orang tersayangnya, kehilangan pekerjaan, dan derita lainnya yang mungkin saya sebagai penulis tidak bisa menjabarkannya dengan kata-kata.
Saya termasuk yang beruntung, setidaknya untuk beberapa hal. Pekerjaan saya aman, justru perusahaan tempat saya bekerja malah berkembang dengan adanya pandemi. Tidak pernah terkena virus COVID. Paling hanya maag saja beberapa kali dikarenakan stress akan pekerjaan. Namun semua sakit maag itu masih bisa saya tahan dan saya terus melanjutkan hidup saya.
Namun bukan berarti saya tidak kehilangan dalam hal lain. Ya, saya kehilangan ibu saya. Satu-satunya wanita yang saya sayangi sepenuh hati. Beliau termasuk orang-orang yang tidak bisa menerima vaksin COVID dikarenakan kondisi kesehatannya. Sedikit saja terpapar, hilang sudah. Namun, mungkin ini sudah jalannya Tuhan. Saya yakin Tuhan tahu ibu saya lebih baik kembali kepadaNya dari pada harus menahan sakit lahir dan batin selama bertahun-tahun. Dengan pemikiran itu, membantu saya untuk bisa mengikhlaskan kepergian ibu saya.
Walaupun begitu, beberapa kesedihan masih ada di hati karena saya belum bisa membahagiakan ibu seperti yang ada dipikiran saya. Bahkan dihari-hari terakhirnya, saya pun belum meminta maaf saat ibu saya dalam keadaan sadar. Hahaha, kalau mengingat hari-hari terakhir itu, masih membuat saya menitikkan air mata. Ya, wajar, orang yang merawat dari kecil dengan segala kasih sayang dan kekuatannya. Namun mungkin air mata saya akan jauh lebih banyak jika ibu saya masih hidup namun dalam keadaan sakit-sakitan.
Sudah hampir setahun ibu saya pergi, selama hampir setahun ini pun beberapa hal berubah dalam hidup saya. Khususnya dalam pekerjaan. Saya pindah departemen, bahkan saya dalam proses ditawari naik jabatan. Lalu juga pelatih paduan suara saya dulu di kampus memanggil saya untuk kembali ke paduan suara mahasiswa tersebut dan membantunya menjadi pelatih. Rasanya seperti mimpi untuk bisa membantu melatih paduan suara, lebih lagi paduan suara yang dimana saya dulunya adalah anggota disitu. Berbakti pada paduan suara yang pernah membantu saya mengembangkan diri dalam bermusik. Walau belum bisa membawa saya ke luar negri, namun segala memori dan pengalamannya amatlah luar biasa.
Saya hanya berharap kedepannya saya bisa semakin melebarkan sayap saya dalam berkarir. Menjadi orang yang berguna untuk banyak orang dan bisa membantu melancarkan urusan orang banyak. Karena dari dulu entah bagaimana, ada kepuasan tersendiri saat bisa memberikan support kepada orang-orang di sekitar saya. Mungkin kebahagiaan saya berasal dari rasa dihargai oleh sesama.
Comments
Post a Comment