Mas Bram
So, I have a crush. He's my friend. Namanya Bram, pastinya itu bukan nama aslinya yaa. Karena kalau sampai ketahuan sama orangnya, aduh, takut. Secara doi udah punya istri dan anak. Sempet sih hampir memberanikan diri untuk ngomong ke orangnya kalo gue ada perasaan sama dia. Namun, moral gue menghentikan gue untuk melakukan itu. Karena gue tahu, kalo gue sampe menyatakan perasaan itu ke dia, itu bisa mengancam pertemanan gue ke dia.
Gue tuh jarang banget sama yang namanya punya temen cowok. Namun di sisi lain gue sering kali jatuh hati sama temen gue yang straight. Yeah, it's a daily battle. Tapi gue bersyukur sih untuk engga memaksakan perasaan gue ke mereka walau kadang menggebu-gebu. Dan beberapa dari mereka tahu kalo gue suka sama mereka dan untungnya mereka orang-orang yang cukup asik. Jadi sampe saat ini gue masih temenan sama mereka.
Anyway, balik ke mas Bram. Mas Bram ini adalah anak tunggal. Dia pernah cerita kalo jadi anak tunggal itu engga enak. Kalau lagi ada masalah keluarga, ga ada yang bisa jadi temen diskusi. Karena dia tau kalo ga semua orang itu bisa jadi temen cerita yang baik. Kebanyakkan entah menghakimi, atau ga cukup peduli dengan cerita kita. Gue setuju sih kalo mas Bram berpikir seperti itu. Karena gue pun pernah punya temen-temen kayak gitu dan berakhir gue cuma jadiin temen biasa, ga temen deket.
Yang gue heran, mas Bram dengan nyamannya cerita tentang masalah dia ke gue. Masalah keluarganya lebih tepatnya. Mungkin gue hanya, lagi-lagi, jadi orang yang welcome siapapun untuk mendekati gue dan bisa untuk gak menghakimi hidup mereka. Dan gue cukup bisa merasakan apa yang dia ceritain ke gue. Karena permasalahan keluarganya cukup mirip dengan masalah keluarga gue. Gue ga perlu cerita lah ya masalah apa, agak kurang etis.
Sekarang, gue berusaha untuk biasa aja. Berusaha, sekali lagi, berusaha. Walau sulit, terbantu dengan jarak sih. Gue dan dia memang satu tempat kerja. Namun, kita seringnya WFH. Dan WFO hanya sesekali. Jadi, ya, bersyukur sih. Karena gue gak tau kalo keadaan balik kayak dulu yang full WFO. Gue sama mas Bram udah kenal lima tahun lebih, namun baru deket saat pandemi. Nah, bayangin kalo sekarang full WFO dengan kedekatan yang sekarang. Aduh, jujur, ga berani.
Walaupun ga bisa gue pungkiri, seeing his face and feeling his presence are really calming. Gue merasa damai saat liat dia senyum. Dan gue bahagia bisa buat dia senyum tiap kali ketemu.
BTW, I've seen him shirtless. He's not a muscular guy, but he's definitely my type. He can make blush. And I blushed, hard. Not hard as in... down there, but hard as in REALLY blushed. Please guys, y'all need Jesus! LOL.
Sesekali dia melakukan kontak fisik ke gue. Dia pernah elus perut gue yang gendut ini... huft. Tapi, dia pernah bilang sesuatu hal yang pas banget saat gue lagi bener-bener insecure. Waktu itu gue mau jadi MC, di kamar gue lagi siap-siap dan ngaca. Gue nanya, "How do I look? Do I look weird?" Tau dia bilang apa? "You look like you, kok."
Sepele sih, cuma itu tuh buat gue deep. Kenapa? Karena itu menandakan kalo dia tuh accept me they way I am. So, yeah, it's pretty deep for me.
Comments
Post a Comment