Pintu Tak Berkunci | Part 6: Kemauan J
J dengan dahinya yang mengerenyit terlihat sangat sibuk dengan kerjaannya hari itu. Banyaknya meeting dan pekerjaan lainnya membuat kepala J sedikit pusing. Namun J tersenyum saat ia melihat jam yang sudah menunjukkan waktu makan siang. Akhirnya J bisa beristirahat sejenak dari pekerjaannya. J bergegas menuju ke arah pantry untuk mengambil minum. Saat ia menunggu gelasnya terisi, dia bisa merasakan ada orang di belakangnya, J menoleh ke belakang. Ternyata Bram. Bram yang sambil tersenyum manis, menjulurkan tangannya untuk memberikan J sesuatu.
"Ini apa?" tanya J.
"Oh, ini makaroni keju. Buat makan siang yaa." jawab Bram dengan ramah.
J menerima bungkusan dari Bram. Dengan wajah yang sedikit tersipu malu, J membuka bungkusannya. Makaroni kejunya terlihat sangat enak dan membangkitkan nafsu makan J yang sudah menggelora sejak tadi. J menghangatkan makaroninya di microwave selama satu menit. Sembari menunggu, J memikirkan Bram. J masih menyimpan perasaan terhadap Bram, namun J tahu bahwa mustahil bagi Bram untuk tahu perasaan J. Karena J berpikir, tidak akan terjadi hal baik jika Bram tahu. Namun, perlakuan baik Bram terhadap J, membuatnya jadi berharap.
J berjalan menuju ke area makan, terlihat beberapa orang sedang menikmati makan siangnya. J memutuskan untuk duduk di meja yang masih kosong. J butuh waktu sendiri karena pekerjaannya hari ini membuat dirinya cukup kelelahan secara mental. Dengan lahap J menyantap makan siangnya. Lalu terlihat Bram menghampiri meja tempat J sedang makan siang. Bram menarik kursi di sebelah J dan duduk di sebelah J. Namun Bram hanya duduk, tidak ada interaksi apapun. Sembari Bram menatap layar smartphonenya.
"Udah makan, Bram?" tanya J.
"Udah kok, baru selesai." jawab Bram singkat.
J melanjutkan makan siangnya. Bram perlahan mengarahkan tangannya ke senderan kursi J. Terlihat Bram berusaha merangkul J. Lalu secara perlahan, Bram mengusap tangannya ke lengan J yang sedang makan. J membatu, ia merasa tidak bisa bergerak. J tidak tahu apa yang harus ia lakukan. J berpura-pura tidak memperhatikan apa yang Bram lakukan. Lalu J mulai overthinking mengenai apa yang Bram lakukan dan membuat jantung J berdebar kencang.
"J, gimana makaroninya?" Pertanyaan Bram memecahkan overthinking J. Sekejap J tersadar dari overthinkingnya dan menjawab, "Enak, suka."
Bram melanjutkan mengusap lengan J sambil tersenyum ke arah J. J bisa merasakan wajahnya terasa hangat. Sudah lama J tidak merasakan kontak fisik yang membuatnya bisa merasakan banyak hal. Sebagai orang yang memiliki physical touch sebagai love language, J merespon dengan baik akan apa yang sedang Bram lakukan. Namun, ketakutan J hanyalah, apakah Bram menganggap hal ini sebagai hal yang biasa ia lakukan kepada teman-temannya. Sungguh, perasaan J bercampur aduk.
Selesai makan siang, J kembali ke mejanya. Duduk terdiam tidak melakukan apapun, masih berusaha memproses apa yang baru saja terjadi. Bram pun terlihat sudah kembali ke mejanya. Sambil melihat ke arah J, Bram tersenyum sambil mengepalkan tangannya, tanda memberikan bahasa tubuh penyemangat kepada J. J membalasnya dengan senyuman termanis. Senyuman yang membuat Bram tersipu malu.
Waktu menunjukkan akhir dari jam kerja, J merapikan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang. Saat J berjalan menuju ke arah pintu lobi, hujan deras turun. J menghentikan langkahnya dan menghela nafas panjang. Rencananya untuk pulang tepat waktu gagal lagi. J berdiri di lobi, terdiam, memikirkan bagaimana cara ia pulang. Sebuah mobil sedan hitam berhenti depan J yang termenung. Klaksonya memecahkan renungan J.
"J! Ayo!" terdengar suara dari mobil. Ternyata Tora. J sedikit terkejut melihat Tora yang tiba-tiba datang menjemput J. J berjalan menghampiri mobil Tora, "Kamu ngapain disini?"
"Ya jemput kamu, lagi pula pas banget lagi ujan. Biar kamu gak kebasahan." jawab Tora dengan setengah senyum. J yang masih agak terkejut, menerima tawaran Tora. J berjalan mengitari mobil Tora ke arah tempat duduk penumpang.
"Hai, how is your day?" Tanya Tora sambil memulai perjalanan mereka.
"It's been super super busy. Senin, selalu sibuk banget."
"Awh, so sorry, are you okay?" lalu tangan Tora mengarah ke wajah J, sambil bertanya, Tora mengusap pipi J dengan jari telunjuk dan tengahnya dengan lembut.
"Iya, I'm okay. Feel better malah, karena kamu tahu-tahu jemput aku."
"Well, I'm glad kalo kamu udah merasa lebih baik." tangan Tora berpindah dari wajah J ke tangan J dan Tora menggengam tangan J dan menaruh tangan J di pahanya.
J merasa berada di langit ke tujuh. Setelah bertahun-tahun single, lalu J dihadirkan oleh Pria yang bisa memperlakukan J dengan istimewa. Perhatian yang J tunggu-tunggu selama ini akhirnya ia rasakan. Dinding keras yang J bangun perlahan mulai runtuh. J berharap Tora bisa menjadi orang yang tepat. Namun, J juga teringat dengan Bram. Apa yang Bram berikan, sama hangatnya di hati J. J jadi ragu, apakah ini efek karena terlalu lama sendiri dan semua perhatian kecil yang J terima rasanya seperti berkali-kali lipat?
Minggu itu berjalan dengan baik. Setiap hari Tora datang menjemput J setiap pulang kantor. Bahkan beberapa kali mereka tidak langsung pulang, mereka mampir ke cafe atau restoran untuk makan malam sambil kencan. J dan Tora nampaknya semakin dekat. Di sisi lain, Bram masih berusaha mendekati J setiap hari di kantor. Namun dengan keadaan Bram, J merasa apa yang J rasakan ke Bram tidak perlu dikejar. Dan di hari Jumat, J memberanikan diri untuk ngomong ke Bram.
"Bram, gue mau ngobrol, ikut yuk!" sambil J menarik tangan Bram. Bram yang kasmaran dan tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, mengikuti J dengan tersenyum kecil. Di hati Bram, mungkin ini saat yang tepat untuk dia mengungkapkan perasaannya ke J.
"Bram, gue merasa belakangan ini lo kayak perhatian ke gue. Sejujurnya, gue sangat apresiasi perhatian lo. Namun, terkadang jujur gue merasa agak berlebihan. Semenjak kejadian waktu gathering, gue merasa kalo kita emang ya temenan aja. Gak lebih. Perhatian lo yang sampe kontak fisik ke gue, walaupun gue apresiasi, buat gue agak berlebihan."
Mendengar penjelasan J, muka Bram yang tadinya bahagia, berubah menjadi tegang.
"Oh, okay, maaf kalau gue keterlaluan. Gue gak akan mengulanginya." balas Bram ketus sambil membalikkan badannya dan pergi menjauhi J...
Comments
Post a Comment