Pintu Tak Berkunci | Part 5: Pilihan, pilihan, dan pilihan
J terbangun dengan sakit kepala yang sangat menyiksa. Rasa cenutan yang tak tertahankan membuat J meringis kesakitan di atas tempat tidur. Dengan segala upaya J berusaha bangun dan melihat sekitar. Hal pertama yang J sadar adalah bahwa ia tidak berada di kamarnya. J ternyata terbangun di sebuah kamar yang baru pertama kali ia lihat. Di samping tempat tidur ada segelas air mineral, J yang merasa haus langsung menyambar gelas itu dan meneguknya hingga tetes terakhir. Beberapa saat kemudian, sakit kepala J perlahan menghilang. Nampaknya J dehidrasi. J yang tersadar bahwa dirinya dehidrasi, melihat ke sekeliling, mencari air mineral.
Dengan sedikit tenaga yang J miliki, ia berjalan menuju ke arah pintu. Ia melihat pintu kayu berwarna coklat tua dengan gagang pintu lurus berwarna perak. Perlahan J membuka pintu dan berjalan ke luar kamar. Saat pintu terbuka dan J akan melangkah, J melihat ada orang berdiri di sebelah pintu. Badan tegap, baju rapi, parfum yang agak murahan yang bercampur dengan bau rokok. Orang tersebut dengan cepat melirik ke arah J dan membalikkan badannya ke arah J. Mukanya yang sangar seketika berubah ramah dan mengangguk tanda menyapa J.
"Halo mas J, selamat siang. Silakan ikut saya, mas Tora sudah menunggu." sapa orang tersebut.
J yang masih agak pusing, semakin bingung. Ia tidak tahu ada dimana. Yang ia sadari, ia berada di sebuah rumah yang cukup megah dan luas. Tiba lah J dan orang tersebut di bagian halaman belakang dari rumah tersebut. Di halaman belakang, terlihat Tora yang sedang duduk di area meja makan sambil menyeruput kopinya dan sibuk menelepon. J yang sedang bingung secara insting berjalan agak cepat ke arah Tora.
"Hai Ra, ini di--" Kata-kata J dipotong oleh Tora yang memberikan gerakkan tangan untuk diam. J berhenti dan duduk di salah satu kursi kosong yang ada di dekat Tora. Orang yang mengawal J tadi mempersilakan J untuk menyantap hidangan yang sudah ada di meja. J tidak sadar bahwa ia merasa lapar. Rasa laparnya dikalahkan oleh rasa bingungnya. J mengambil beberapa anggur dan meminum banyak sekali air mineral karena J merasa sangat haus.
Beberapa menit berlalu, Tora akhirnya menyelesaikan permbicarannya di telepon. "Hai, selamat pagi, tampan. Are you okay?" Tanya Tora dengan senyum kecilnya sambil mengusap tengkuk leher J.
"Kita ada dimana, Ra?" tanya J dengan gugup.
"Di rumah." Jawab Tora singkat.
"Rumah? Rumah siapa?"
"Ya rumahku lah."
"Rumah kamu? Kenapa aku di rumah kamu? Kok aku gak inget kita kesini ya? Lalu itu sia--"
Pertanyaan J terpotong karena Tora mengecup bibir J. J terkejut namun tidak memiliki tenaga untuk melawan. Muka J terlihat memerah. J panik, karena J tahu bahwa mereka tidak sendiri. J hanya terdiam melanjutkan makan.
"J, iya wajar kalau kamu gak inget kalo kita kesini. Semalem abis jemput kamu, kamu minta di bawa ke tempat minum. Lalu kamu pesen tequilla dan habis hampir satu botol sendiri. Untung ada aku, jadi aku biarin aja kamunya. Lalu setelah kamu ga sadarkan diri, aku bawa kamu pulang, soalnya aku kan ga tahu rumah kamu dimana. Dan itu Bruno, bodyguard kamu." jelas Tora.
"Hmm, okay, kenapa ada bodyguard ya?" tanya J yang masih agak kebingungan.
Tora menjelaskan kepada J bahwa keluarga Tora merupakan salah satu keluarga terkaya di Indonesia. Kekayaan keluarganya berasal dari banyak bisnis yang mereka lakukan, baik bisnis legal, maupun ilegal. Maka dari itu ada satu bodyguard yang stand by di depan kamar J tidur tadi. Ya, keluarga Tora cukup terbuka dan sangat tidak apa-apa dengan seksualitas Tora. Bahkan kakak dan adik Tora sering sekali menanyakan kapan Tora akan mengenalkan pasangannya ke mereka.
J mendengarkan semua penjelasan tersebut dengan perasaan yang campur aduk. J tidak menyangka ternyata Tora memiliki kehidupan yang sangat berbeda dengannya. J hanyalah seorang pria biasa, berasal dari keluarga yang berkecukupan namun tidak berlebih, sedangkan Tora berasal dari keluarga yang sangat kaya raya. Membuat J sedikit minder karena J tahu akan banyak hal yang tidak akan cocok jika dua orang berasal dari latar belakang yang terlalu beda jauh. Namun kebaikkan Tora tidak bisa J abaikan begitu saja. Tora yang sudah baik mau merawatnya saat ia kehilangan kesadaran, dibawa ke rumah Tora dengan selamat.
Matahari semakin tinggi, tidak terasa sudah lewat siang bolong, J yang sudah segar karena sudah mandi, bergegas merapikan barang-barangnya dan memastikan tidak ada yang ketinggalan. J tidak tahu kapan ia akan kembali lagi ke rumah Tora. Setelah J menutup pintu di belakangnya, lagi-lagi ia bertemu dengan Bruno si bodyguard. Bruno mengawal J hingga ke bawah, ke ruang duduk yang dimana terlihat Tora sedang menatap layar smartphone nya, menunggu J.
"Oke, aku udah siap." sapa J sembari berjalan ke arah Tora.
Tora bangun dari sofa sambil menggenggam tangan J dan mengecup pelan pipi J. "Makasi ya, aku harap kamu bisa sering-sering main ke rumahku. Rumahku terasa lebih hangat ada kamu. Jadi betah aku di rumah."
Tora dan J berjalan ke luar rumah Tora, di depan pintu utama sudah ada mobil yang siap mengantar J pulang ke rumahnya. Tora memutuskan untuk mengantar J. Tora berpikir, dia bisa menghabis waktu lebih bersama J di perjalanan pulangnya. Sepanjang perjalanan pulang J dan Tora membicarakan banyak hal yang cukup penting. Dengan fakta yang baru J ketahui pagi tadi, J merasa penting baginya untuk benar-benar mengenal Tora. Saking seriusnya, tidak terasa mereka tiba di rumah J.
Beberapa hari kemudian
Waktu menunjukkan pukul 7.15, J yang biasa berangkat pukul 7, panik. Panik karena J adalah orang yang sangat jarang terlambat. Dengan buru-buru J memakai sepatunya. Selesai dengan semua persiapan, J mengunci pintu rumahnya. Namun, J dikejutkan dengan suara klakson mobil. Dengan cepat J menengok ke arah sumber suara. Terlihat mobil sedan putih di depan rumahnya. Lalu kaca mobil terbuka perlahan, "J, berangkat bareng yuk!" sapa Bram...
Bersambung...
Comments
Post a Comment