He's a friends turns a crush turns a best buddy
So, di tempat kerja gue, gue have a crush dengan beberapa orang. Dan sayangnya mereka semua lurus. Yeah, kisah klasik seorang gay ye kan? Nah, masalahnya, salah satu dari mereka ini tuh sekarang jadi temen baik gue. We share a lot of stories and tell each other's problem. Intinya, best bro lah. Dan dia juga baca blog gue kadang, so, kalo lo baca ini, ya ini tentang lo.
2017 adalah awal kita ketemu di tempat kerja gue saat ini. Kita udah jadi rekan kerja selama hampir 6 tahun. Awalnya gue biasa aja sama dia, karena buat gue, kesan pertama ke dia adalah, "Oh, ya udah." Nope, this is not a bad thing, it's a neutral thing. Kelamaan, karena kita berada di satu tim yang sama, makin kenal lah satu sama lainnya.
Well, berkat temen cewe gue, Miss R, karena Miss R udah kenal duluan Mr. G ini. Mereka masuk di saat yang sama, sedangkan gue sebulan kemudian. Awalnya hanya bertukar chat di Skype dan hanya ngomongin kerjaan. Namun, gue yang emang pada dasarnya bawel, gue coba untuk ngobrol hal-hal ringan. Ternyata respon Mr. G oke. Dia termasuk orang yang menurut gue, dari segi kecerdasan, seimbang sama gue.
Referensi yang gue gunakan di obrolan sering kali masuk namun terkadang ya gak masuk hanya karena referensi yang gue gunakan terlalu gay. Hahahahaha. But, fortunately, he catch up with the reference. See? Smart guy. Dan seiring berjalannya waktu, ngeliat dia rajin ibadah, pendiam, dan bisa dikatakan manis, it attracts me.
Beberapa kali gue nanya sama Ms. R, apakah gue harus nyatakan perasaan gue ke Mr. G? Ms. R bilang, ga usah, dia temen kerja, nanti malah rumit. So, selama beberapa tahun gue menahan perasaan itu. Namun, karena gue pada dasarnya susah banget untuk bisa nahan perasaan, gue menggunakan candaan sebagai sarana penyaluran perasaan gue ke dia. Ada fase dimana gue sangat clingy sama dia dan karena kita sama-sama perkokok, gue sering ajak dia ngeroko bareng hanya karena gue mau berduaan sama dia.
Lalu pandemi datang, kita semua di suruh WFH. Dan untuk waktu yang cukup lama, kita gak ketemu. Namun kesempatan justru berpihak kepada gue. Gue bisa menggunakan alasan pandemi untuk chat dia hampir setiap hari. Bisa ngobrol sama dia di chat dengan lancar tuh udah buat gue seneng jujurly. But, then again, karena dia temen kerja gue, dan gue tau dia lurus, gue gak bisa berharap banyak. So, gue menganggap dia sebagai penyemangat kerja aja, gak lebih.
Sampe suatu saat, gue lagi di fase kesepian, gue tiba-tiba keinget Mr. G. Gue chat lah dia, kita ngobrol kayak biasa, hal-hal random. Sampe dipembahasan mengenai tubuh dia. Dia ngomongin hal-hal yang berhubungan dengan otot dia. Jujur, gue disitu merasa agak was-was an. Gue bilang, let's not talk about your body, especially your muscles. Dia bingung dan tanya kenapa?
Akhirnya, dengan mental nothing to lose, gue jujur sama dia. "I have a crush on you, you know that, right?" Dan dia cuma bales dengan datar, "Oh." Lalu somehow kita ngobrolin hal lain. Di akhir obrolan gue tanya sama dia, "Are we good?" Dan respon dia, "Kenapa harus gak good?" Dan disitu gue senyum. Gue seneng dia bisa anggap itu suatu hal yang biasa dan dia gak mau merusak pertemanan kita dengan menjadi orang brengsek. Ya, gue nyatain perasaan gue ke dia, namun gue gak minta dia untuk membalasnya. So, buat dia, ya biasa aja.
Sampe saat ini, gue masih ada sedikit perasaan sama dia. Namun, dengan dia yang udah baik banget sama gue, gue berusaha hanya untuk menjadi temannya aja. I'll listen to his story kapan pun. Mungkin gue ga bisa miliki dia sebagai pasangan gue, but, dengan dia ada di hidup gue, untuk saat ini, udah cukup.
So, Mr. G, yeah, I said it. Semoga perasaan gue bisa memberikan lo semangat hidup dan percaya bahwa lo itu menarik. Hehehe.
Comments
Post a Comment