The End Journey of Bram

Seperti yang kalian tahu, sudah tahun ke empat gue have a crush on mas Bram. Namun, nampaknya, semua ini berakhir. Semuanya sudah terkuak dan akhirnya mas Bram tahu kalau gue suka sama dia.

So, ini terjadi saat pertama kali gue sadar kalo gue se suka itu sama mas Bram, yaitu di acara gathering kantor. Gathering kantor terakhir, gue dan mas Bram dan beberapa temen lainnya lagi menikmati free time. Kita menghabiskan waktu dengan bermain Mobile Legends selama beberapa jam. Selesai bermain, kami memutuskan untuk ngobrol. Banyak hal yang kita obrolin, mulai dari keluarga, hal random, hingga ke isu LGBT.

Sambil ngobrol, gue memutuskan untuk makan mie instan. Namun, setelah gue sadari, air mineral gue habis dan yang tersisa adalah anggur. So, gue menenggak anggur itu, cukup banyak, hingga akhirnya otak gue berpikir, "Apakah ini saatnya gue menyatakan perasaan gue ke mas Bram?"

Tiba-tiba mas Bram berkata kalau dia mau jalan-jalan sekitar hotel. Udara dingin malam itu sungguh mendukung mood yang sedang gue rasakan. Dengan sedikit "liquid courage" gue akhirnya memberanikan diri untuk menyatakan. Saat lagi jalan-jalan, gue melihat ada meja dan kursi kosong, "Duduk dulu boleh? Gue mau menikmati anginnya." pinta gue. Dan mas Bram mengiyakan.

Saat itu kita hanya berdua, pukul tiga, duduk berdua. "Bram, gue mau ngomong sesuatu ke lo, tapi please jangan being weird about this yaa?"

"Okay, apatuh kalo boleh tau?"

"Jadi, selama beberapa tahun belakangan ini gue sebenernya suka sama lo. Puncak mulai sukanya adalah saat office gathering pertama kita setelah merger sih."

Muka Bram terlihat tersenyum, antara agak awkward dengan tersanjung, "Oh ya? Kok bisa?"

"Iya, ga tau juga kenapa bisa sih, Bram. Yang pasti I have a crush on you. Mungkin karena kita setiap kali ngobrol tuh enak kali yaa. Dan bisa ngobrol banyak mengenai banyak hal dengan seseorang ada hal yang gue idamkan dari seorang pasangan."

Lalu Bram menanyakan beberapa pertanyaan seputar apa yang terjadi saat gue suka sama dia. Gue bilang ke dia mengenai semua cerita-cerita yang based on true story dengan sedikit twist di blog gue. Dia cuma ketawa kecil. Gue hanya berharap dia merasa tersanjung karena ada seseorang yang mendedikasikan sesuatu untuk dia. But, yeah, gue ga kecewa kok kalau dia ternyata hanya menggap gue sebagai teman yang baik. Gue bahkan berharap kalau kita akan selalu temenan, karena buat gue sulit mendapatkan teman cowo yang dimana kita bisa bertukar pikiran secara intelektual namun tetap ringan dan penuh canda.

So far, ada dua orang yang gue confess perasaan gue dan akhirnya kita ended up as a friend. And I'm glad.


Terimakasih orang-orang baik :)

Comments

Popular Posts