Pintu Tak Berkunci | Bab 1: Saat Pertama
Tahun 2017, adalah tahun dimana gue baru saja memulai pekerjaan baru di sebuah perusahaan. Gue cukup bersemangat dalam memulai pekerjaan ini karena menurut gue pribadi ini adalah pekerjaan yang cukup keren untuk dimiliki. Well, setidaknya dua tahun pertama. Dua tahun belakangan kejenuhan mulai menumpuk dan merasa tidak ada progres dari pekerjaan gue saat ini. Ya, udah hampir lima tahun gue menjalani pekerjaan ini.
Waktu hari pertama gue kerja sih semuanya nampak biasa aja ya. Mungkin karena gue tipe orang yang kalau lagi kerja ya bener-bener fokus. Jarang banget untuk nengok kanan kiri kalau emang gak harus. Hari demi hari gue jalani dengan semangat di dua tahun pertama itu dan sedikit demi sedikit mulai akrab dan kenal sama orang-orang di kantor.
Awalnya sih gue gak pernah perhatiin satu cowok di kantor gue ini ya. Karena gue dan cowok ini tuh beda departemen. Pekerjaan kita juga enggak pernah sekali pun berhubungan langsung. Kecuali ya antar team leader biasanya yang bersinggungan. Gue mulai perhatiin dia di tahun ke dua saat gue ikutan di acara jalan-jalan kantor. YANG SAYANGNYA DIA ENGGAK IKUTAN KARENA DIA PUNYA ANAK DAN ISTRI!!! Hhhhhh.
Satu hal yang akhirnya gue bener-bener perhatiin dia adalah betapa manisnya senyumnya itu. Di awal gue kerja, gue merasa biasa aja sama cowok itu. Tapi pas liat dia senyum, hadeh, hati gue langsung meleleh. Enggak, dia bukan tipe cowok playboy yang berparas tampan nan tinggi. Namun dia lebih kepada tipikal cowok komplek yang kerjaannya main futsal sama temen-temennya tiap weekend. Simple guy bisa dibilang.
Nah, makin kesini gue makin kenal sama dia perlahan tapi pasti. Ya agak-agak modus sedikit sih kadang, kayak sengaja banget duduk di lobi kantor hanya supaya bisa papasan sama dia. Ngeliat dia dateng aja tuh udah ngebuat hari gue cerah. Payah deh gue kalo udah naksir sama laki tapi gak bisa terlampiaskan.
Anyway, beberapa waktu lalu tempat gue kerja mengalami perubahan drastis. Alias perusahaan gue dibeli sama perusahaan kompetitor, wk. Ya enggak apa-apa sih sebenernya, toh setelah dibeli perusahaan gue kasih benefit yang jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Nah, karena adanya akuisisi perusahaan ini, ternyata ada acara jalan-jalan lagi dong, dalam rangka saling kenal dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Jujur disitu gue bahagia karena gue liat dia memutuskan untuk ikut. YA MARI KITA IKUT LAH YAA!
Lo semua ga tau betapa bahagianya gue saat liat dia dateng ke kantor pagi-pagi dengan jaket birunya dan motor bebeknya. Saat itu gue merasa kalau weekend ini akan menjadi weekend yang luar biasa. Again, gue sangat lemah kalau udah persoalan laki. Wk. Gue yang secara otomatis ditunjuk jadi panitia udah ada di kantor sejak jam 6 dikarenakan gue harus absen orang-orang dari grup perusahaan gue. Well, jujur gue suka jadi panitia karena gue bisa menarik banyak perhatian sih. Hahaha. HAUS PERHATIAN BANGET, PAK?
Oh ya, acara kantor gue ternyata diadain di daerah dingin. Aw, aw, aw. Kesukaan gue daerah dingin itu tuh. Karena orang dari perusahaan gue cuma sekitar 30 orang, otomatis sebagian besar bus isinya ya temen-temen gue plus beberapa temen-temen baru dari perusahaan seberang. Which, I don't mind. Kesempatan juga bisa kenalan sama orang baru and I did.
Tibalah saat kita berangkat, bus bergerak pukul delapan lewat dan lalu lintas sudah mulai padat. Untungnya tujuan acara kantor gue berlawanan arah dengan orang-orang yang berangkat ke kantor. Di bus, dia duduk agak di belakang sedangkan gue duduk di bagian agak depan bus. Disini gue jadi keinget jaman SMA pas lagi karyawisata. Gue selalu duduk di tengah atau depan, deket sama guru. Kenapa? Karena gue tahu di belakang biasanya "anak-anak nakal". Tapi kali ini kan udah di lingkup profesional yaa, jadi gue memberanikan diri untuk mampir ke bagian belakang bus untuk ikutan ngobrol sama si cowok itu.
Saat gue duduk tepat di belakang kursi dia, jujur gue bisa ngerasa kalau muka gue merah. Jantung gue berdebar kenceng. Ga kuat ngeliat senyum dia. Tapi tipikal gue kalau udah grogi, pasti gue akan mengeluarkan candaan-candaan demi menyembunyikan perasaan gue yang sesungguhnya. Tapi, setiap kali dia senyum, hati gue semakin luluh. Semakin sulit gue menyembunyikan perasaan gue. Kalau gue udah begini, biasanya gue akan merasa sedih. Padahal posisinya saat itu gue ga bisa sedih karena gue bagian dari panitia, tim heboh, orang yang harus membuat suasan rame.
Sepanjang perjalanan, gue, dia, dan temen-temen lain ngobrol dan becanda. Sampe pada suatu titik dimana nampaknya habis sudah bahan obrolan dan gue balik ke kursi gue untuk dengerin lagu dan berusaha tidur. Gue ambil headphone dari tas gue dan menyematkan headphone itu ke kepala gue. Gue inget lagu yang pertama dimainkan adalah lagu Clair De Lune oleh Debussy. Ah, sial, lagu galau gue. Pas banget sama keadaan saat itu. Bram, ya itu nama dia, nampaknya melakukan hal yang sama. Dia menyumpal headset dan mendengarkan lagu. Gue yang cuma bisa curi pandang ke belakang sesekali, merasa lega. Lega karena dia enggak ngobrol lagi. Karena kalau dia ngobrol lagi, jujur gue akan merasa ketinggalan dan semakin hopeless untuk dapetin dia.
Bagi gue komunikasi adalah kunci paling penting dalam mengenal satu sama lain. Dan jujur, momen acara kantor itu adalah momen satu-satunya gue bisa mendekatkan diri ke Bram. Namun di sisi lain, gue lupa kalau dia itu udah nikah, bahkan udah punya anak. Namun emang dasar gue yang super kompetitif, gak pernah mau nyerah. Well, jujur, antara pantang menyerah dan putus asa sih. Karena kondisinya amat sangat kecil kemungkinan untuk gue bisa dapetin dia.
Setengah jam berlalu dan akhirnya sampai di tujuan. Kami semua turun dari bus dan menuju ke aula utama untuk disambut oleh panitia yang sudah stand by sehari sebelumnya. Gue jalan duluan untuk ketemu dengan panitia lainnya dan gue minta dibrief acara hari ini. Beberapa menit kemudian, dari ujung pandangan mata, gue bisa liat Bram masuk ke aula barengan gerombolan anak-anak cowok lainnya. Gue memutuskan duduk dengan beberapa teman lainnya karena satu meja bisa di duduki sekitar enam atau tujuh orang.
Acara dimulai, pembukaan oleh petinggi-petinggi perusahaan dan dilanjutkan dengan makan siang bersama. Karena gue cuma sarapan sedikit paginya, gue memutuskan untuk ambil makanan agak banyak karena gue tahu selesai makan siang akan banyak acara team building yang pastinya butuh banyak energi. Saat gue sedang nikmatin makan siang gue sambil ngobrol santai, tiba-tiba salah satu panitia mengumumkan pembagian kamar. DEG! Jantung gue skip satu beat.
Pembagian kamar adalah salah satu hal yang gue tunggu dari pagi, disini gue amat sangat berharap untuk bisa satu kamar sama Bram. Namun di sisi lain, hati gue berkata jangan terlalu berharap karena kemungkinannya kecil untuk bisa satu kamar sama Bram. Ditambah gue adalah orang yang jarang banget beruntung kalau soal undian, meh. Satu persatu peserta maju untuk mengambil kunci kamarnya masing-masing. Dan ternyata, ya, gue enggak satu kamar dengan Bram. Dan rasa galau menyerang tiba-tiba. Dan lagi-lagi gue menyembunyikan perasaan gue dengan senyuman. Huft. Capek.
Sore itu kegiatan berjalan lancar dan super seru. Gue dan rekan-rekan gue bener-bener menikmati kegiatan team building yang sudah dirancang sedemikian rupa oleh pihak hotel. Disitu jujur gue ketemu orang-orang asing yang ternyata kecerdasannya cukup baik dan sangat menantang gue dalam soal mencari solusi. Kegiatan yang seru itu bener-bener ngebuat gue enggak mikirin Bram sama sekali. Bahkan gerimis yang tiba-tiba dateng pun enggak memudarkan semangat gue dan rekan-rekan kerja gue. Justru makin buat kita makin semangat.
Acara pun selesai dan gue memutuskan untuk ke kamar untuk mandi dan segera ganti baju gue yang mulai lembab karena gerimis. Gue jalan sendirian menuju ke kamar gue dengan perasaan lelah namun puas. Gue sengaja buru-buru untuk mandi duluan karena gue tau pasti abis ini banyak dari temen-temen gue pada pengen duduk-duduk dan ngobrol.
Setengah jam gue menghabiskan waktu gue di kamar mandi dan keluar dengan sensasi seger yang luar biasa. Lalu sayup-sayup gue denger suara ketawa dari kamar sebelah, dan bener aja, udah pada kumpul sambil duduk-duduk santat. DEG! Bram.
Bram ada disitu dan duduk membelakangi arah gue dateng. Dengan segala upaya gue berusaha dan langsung membaur dengan kerumunan. Saat itu cuma ada satu kursi kosong yang bisa gue dudukin dan tepat di sebelah Bram.
"Naaaaah, dateng juga, ditungguin juga dari tadi." Sapa Bram sambil menepuk kursi yang ada di sampingnya.
What??? Dia nungguin gue??? DAMN! GUE PANIK!!! Oke, chill, Jo, chill! Gak perlu panik dan aneh. Disitu gue berusaha dengan segala daya upaya gue untuk enggak peluk Bram. Damn, Bram, kenapa harus gitu sih????
Akhirnya obrolan pecah dan semua menikmati candaan yang terlontar dari masing-masing orang. Mulai dari hal konyol hingga hal serius dibicarakan. Gue yang emang tipikal orang yang suka dengan perhatian, berusaha seaktif mungkin dalam memulai suatu topik. Sampe di satu momen dimana Bram melontarkan sebuah topik yang dimana menurut gue agak maksa namun terlihat Bram berusaha untuk membuka obrolan ke gue.
Mungkin ini ge'er nya gue, cuma gue pikir dia cuma nyari topik karena obrolan itu gak berlangsung lama. Ya gue bisa apa? Saat orang yang gue suka ngajak gue ngobrol di depan orang banyak, gue cuma bisa respon sebisa gue sembari menahan segala gejolak emosi jiwa. Hadeh.
"Jo, menurut lo apa yang lo lakukan kalau ada barang yang lo pernah sayang namun lo udah gak pake barang itu?" Tanya Bram ke gue.
"Hmmm, kalo gue sih punya prinsip, saat ada barang gue yang masih bagus dan masih bisa digunakan, antatra gue jual atau gue kasih ke orang lain yang gue yakin pasti pake barang itu." jawab gue dengan lancarnya karena walaupun pertanyaannya agak flat, cukup relate dengan kejadian yang gue baru alamin beberapa waktu lalu saat gue jual smartphone gue ke ade gue.
Obrolan gue dan temen-temen gue berlangsung cukup lama. Lalu kita semua pergi ke aula untuk menghadiri acara puncak. Acara berjalan sekitar 5 jam dan semua orang bener-bener have fun. Bahkan bos gue pun ikut turun untuk joget. Oh ya, bos gue itu tuh tipikal Sugar Daddy muda gitu, gemes. ANJIR GUE LACUR AMAT YEEE.
Anyway, selepas acara itu, beberapa dari temen gue memutuskan untuk pergi area kolam untuk memabukkan diri mereka. Gue orang terakhir yang keluar dari aula dan sempet ke toilet dulu karena gue udah kebelet. Ternyata gue papasan dengan Bram. Dia baru aja selesai buang air kecil. Karena kita cuma berdua, gue reflek ngomong, "Bram, tungguin Jo! Takut." Dengan nada setengah bercanda.
Bram tersenyum dan merespon, "Iyaa, ditungguin."
DEG. SKIP LAGI DETAK JANTUNG GUE. Bego lo Jo! Begooooo. Jangan mancing deh kalo ga berani terima akibatnya. Hadeh. Anyway, selesai gue buang air kecil dan cuci tangan, gue lihat Bram nungguin gue di depan pintu toilet.
"Udah?" tanya Bram dengan lembut. Gue hanya membalas dengan anggukan dan kita jalan ke area kolam renang untuk ikutan gabung dengan temen-temen gue. Di sepanjang jalan dari aula ke area kolam, kita cuma saling terdiam, ditambah udah capek karena energi udah terkuras di acara tadi. Sesampainya di area kolam, gue melihat kerumunan orang dengan gelak tawanya yang ramai. Tiba-tiba mood gue berubah dan memutuskan untuk langsung balik ke kamar.
"Bram, gue kayaknya balik aja ke kamar deh. Gue capek."
"Hm, ya udah deh." balas Bram.
Dari balasannya gue berasumsi Bram akan gabung dengan teman-teman yang lain. So, gue balik badan dan jalan menuju kamar sendirian. Namun gue mendengar suara langkah di belakang gue. Gue pun balik badan dan mencoba melihat. Ternyata Bram. Dia nampaknya memutuskan untuk balik ke kamarnya juga.
"Lho, kok ga jadi?" tanya gue polos.
"Iya nih." Jawab Bram singkat. Gue yang berusaha untuk memperpanjang obrolan bertanya lagi, "Kenapa? Ga suka minum alkohol?"
"Iya, gue suka sih minum alkohol. Cuma kalau sekitarnya orang-orang yang gue kurang kenal jadi agak kurang nyaman." balas Bram. Gue membalas pernyataannya dengan anggukan. Gak lama kita udah di depan gedung kamar kita. Tiba-tiba Bram berhenti dan narik lengan gue.
"Eh, kenapa Bram?" tanya gue dengan muka kebingungan.
"Gue sekamar sama anak dari perusahaan lain, gue main ya ke kamar lo? Sepi pasti di kamar gue."
DEG... BRAM? ARE YOU OKAY???
TO BE CONTINUED...
Comments
Post a Comment