Pintu Tak Berkunci | Bab 2: Kencan Pertama (?)
Gue gak salah denger kan? Dia mau ke kamar gue? Jujur, antara seneng dan panik bercampur aduk jadi satu. "Oh, gitu. Ya udah, ayo aja kalo mau main ke kamar. Gue juga sendirian." Eaaa, dengan bodoh dan polosnya gue menyambut ajakkan Bram. Lalu kita lanjut jalan ke arah kamar gue, Bram di belakang gue ngikutin karena dia ga tau dimana kamar gue.
"Eh, ini ada cemilan di toples, mau ga?" Tanya Bram ke gue.
"Cemilan apa?"
"Ini lho, cemilan jaman kecil, kue kering yang ada topping warna-warni nya di atasnya."
"Ih, mauuuu!" jawab gue dengan girangnya. Karena snack itu adalah snack kesukaan gue.
Lalu Bram mengambil beberapa bungkus cemilan itu dan mengantonginya di jaketnya. Dengan senyum yang sangat manis Bram melanjutkan langkahnya ke arah gue yang udah ada di depan pintu kamar. Entah apa yang harus gue lakuin sekarang dengan kehadiran Bram di kamar gue. Gue yakin Bram hanya menganggap gue sebagai temen yang asik buat diajak ngobrol, makanya dia mau mampir ke kamar gue.
Gue memutuskan untuk ke toilet untuk mengumpulkan segala energi supaya gue bisa mengontrol perilaku gue. Gue gak mau hubungan gue dengan Bram hancur karena ke khilafan gue semata. Buat gue, pertemanan gue dengan Bram yang baru terjalin di beberapa hari ini lebih berharga daripada gue menghancurkannya hanya karena nafsu semata. Karena sulit bagi gue untuk memiliki temen cowok yang dimana gue bisa nyambung obrolannya dan nyaman saat lagi ketemu.
Sedikit kilas balik gue jaman SMA, 90 persen temen gue adalah perempuan dengan satu alasan, PEREMPUAN KALO BECANDA ENGGAK NYAKITIN. Sedangkan temen-temen cowok gue waktu di SMA, mereka suka banget membully gue secara verbal. Hal itu yang membuat gue memutuskan untuk engga menjalin pertemanan dengan banyak cowok. Namun, gue lupa kalau sebenernya semakin gue dewasa, semakin gue bertambah umur, gue pasti akan menemukan orang-orang yang pastinya jauh berbeda sikapnya dibanding temen-temen cowok SMA gue. Dan, ya, Bram lah contohnya.
Setelah gue merasa cukup kuat untuk mengendalikan diri gue, gue memutuskan untuk keluar dari toilet. Hal pertama yang gue liat saat gue keluar dari toilet adalah Bram yang ternyata tertidur di tempat tidur gue. Jujur gue gak tau apakah dia bener-bener tidur atau cuma memejamkan mata sejenak karena lelah. Gue berjalan pelan-pelan ke arah tempat tidur dan melihat Bram dari samping tempat tidur. Gue cuma bisa tersenyum karena gue merasakan kehangatan luar biasa dari melihat Bram tidur.
Tiba-tiba Bram membuka matanya, menatap lurus ke arah gue. DEG! Gue langsung merubah senyum gue menjadi tawa dan berkata, "Katanya mau ngobrol, malah tidur." Bram yang baru tersadar hanya bisa tersenyum sambil mengucek matanya, lalu ia menarik tangan gue ke arah dia sambil berkata, "Sini, tiduran sama gue." dan hal selanjutnya yang gue tau, gue, Bram, di tempat tidur, berdua, dan gue dipeluk dari belakang.
(ISTIRAHAT SEJENAK KARENA PENULIS BUTUH WAKTU UNTUK MEMPROSES PERASAANNYA)
Ya, Bram peluk gue dari belakang di tempat tidur. Gue yang masih kebingungan berusaha membuka mulut dan bertanya, "Hm, Bram. Kenapa harus pelukkan begini?"
"Dingin, J, gue kedinginan." jawab Bram.
YA INI KAN YA HOTEL YA, ADA SELIMUT TEBEL YANG BISA DIPAKE, KOK MODUS BANGET YA ANDA???
Anyway, gue yang merasa seneng karena semua ini terjadi, gak nolak ajakkan dia untuk cuddle. Baru aja gue nikmatin pelukkan Bram, gak lama smartphone gue bunyi. Dengan agak bertanya-tanya siapa yang telepon gue tengah malem gini, gue liat layar smartphone gue dan ternyata nomer yang gue gak kenal. So, gue abaikan aja dan kembali ke pelukkan Bram. Namun beberapa detik kemudian nomer yang sama telepon lagi dan gue memutuskan untuk menjawab teleponnya.
"Halo." Sapa suara di seberang telepon.
"Iya, halo. Ini siapa?"
"Hai, J, ini gue Tora." Tora, seorang cowok yang pernah jadi gebetan gue, hampir aja jadian, namun nampaknya Tora belum bisa menjalin hubungan yang serius dengan siapapun saat itu.
"Oh, Tora. Ada apa telepon jam segini? Lo gak kenapa-kenapa kan?"
"Oh, enggak kok. Cuma tiba-tiba kepikiran lo aja." Eaaa, tiba-tiba kepikiran bisa diterjemahkan ke bahasa jaman sekarang menjadi "lagi sange".
"Oh gitu. Lagi dimana emang?" tanya gue sambil senyum-senyum sinis.
"Hm, lagi di rumah aja. Eh, ya, gue ganggu gak?"
"Engga kok, Ra. Gue lagi santai aja." jawab gue sambil lirik ke arah Bram yang ternyata udah balik badan dan memunggungi gue.
Gue dan Tora melanjutkan perbincangan di telepon selama kira-kira sekitar 5 menit dan gue sambil jalan ke arah balkon supaya gue gak ganggu Bram yang nampaknya udah lelah, sampe akhirnya gue memutuskan untuk menyudahi karena gue agak merasa gak enak ninggalin Bram sendirian di kamar. Saat gue balik ke kamar dari, ternyata Bram udah ga ada. Gue cek ke toilet pun gak ada.
Dengan sigap gue keluar kamar dan coba untuk nyari Bram. Ternyata bener, Bram terlihat keluar dari kamar dan terlihat Bram sedikit tergesa-gesa meninggalkan kamar gue.
***
Comments
Post a Comment