Pintu Tak Berkunci | Part 4: Bram vs Mafia

 Akhir minggu hampir tiba, J yang sedang melamun dikagetkan oleh sapaan dari Bram.

"Dorrr! Bengong aja!" ucap Bram dengan tersenyum.

"Eh iya nih, lagi agak kesel." jawab J dengan nada sedikit ketus bercampur kecewa.

Bram yang melihat J sedih segera bertanya dengan nada yang penuh ke khawatiran.

"Lho, kenapa? Are you okay?"

"Well, not really. Tadi habis ditelepon Tora, katanya dia mau batalin rencana ketemuan malem ini. Karena dia harus keluar kota, ada kerjaan mendadak." jawab J yang masih dengan muka murung sambil menghisap rokoknya.

"Ooooh, gitu." Balas Bram yang menahan kegirangannya. "Ya udah, malem ini nongkrong di kantor aja sama Bram sama yang lain. Mau gak?"

J yang tadinya termurung, sejenak mengeluarkan senyum kecil. Senyuman yang selalu dinantikan oleh Bram. Melihat J sedikit terhibur membuat hati Bram semakin berbunga. Bram mengarahkan tangannya ke punggung J dan menepuk punggungnya dengan lembut sambil menatap J dan tersenyum. Dengan harapan bisa menghibur J. J semakin tersenyum dan akhirnya Bram berhasil membuat J kembali ceria seperti biasanya.

Jam pulang kantor pun tiba, satu per satu orang-orang di kantor pulang. Namun beberapa masih ada yang duduk di depan komputernya masing-masing. Entah hanya menonton Youtube maupun mengerjakan kerjaannya. Namun terlihat Bram dan J masih sibuk di mejanya masing-masing. Sesekali Bram melirik ke arah meja J. Setiap kali Bram melihat wajah J, penat dari pekerjaannya serasa berkurang dan semangatnya dalam menyelesaikan pekerjaannya pun kembali. 

J yang nampaknya sudah selesai dengan pekerjaannya, dengan gerakan cepat ia bangun dari kursinya dan berjalan menuju ke ruangan merokok. J berjalan melalui meja tempat Bram bekerja dan J mengarahkan pandangannya ke arah Bram dan berharap Bram melihatnya. Namun terlihat Bram sedang fokus dengan pekerjaannya. Akhirnya J melanjutkan berjalan ke arah ruangan merokok dan terlihat di ruangan merokok ada teman-teman lainnya dan J memutuskan untuk gabung obrolan dengan mereka.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 7 malam dan perut J mulai berbunyi tanda J lapar. Teman-teman lainnya yang dari tadi ngobrol bersama J satu per satu pulang dan meninggalkan hanya J dan Bram saja di kantor. J berjalan menuju ke arah meja Bram. J mengarahkan dirinya ke kursi kosong yang ada di sebelah meja Bram dan menarik kursi tersebut agar lebih dekat dengan tempat Bram duduk.

"Katanya mau nemenin! Malah kerja terus! Cuek!" kata J dengan nada manja nan ketus.

"Eh, iyaa, iyaa, maaf yaaa. Oh ya, laper nih, mau pesen makan apa?" balas Bram sambil menutup semua pekerjaannya agar ia bisa fokus kepada J yang mulai manyun karena merasa diabaikan.

Dengan wajah setengah senyum J berkata, "Kayaknya sushi enak sih."

Bram mengangguk sambil tersenyum tanda setuju dengan pilihan J. Terlihat Bram dan J sibuk memperhatikan layar smartphone mencari tempat yang menjual sushi. Sembari terdengar gelak tawa dari candaan-candaan yang dilontarkan J, Bram merasa sangat bahagia bisa berdua saja dengan J, bersenda gurau, menghabiskan waktu bersama. Ingin sekali rasanya Bram memegang tangan J dan menggenggamnya dengan erat, namun Bram mengurungkan niatnya.

Saat mereka sedang ngobrol dengan asyiknya, smartphone J yang berada di depan Bram berbunyi. Bram secara reflek melihat ID caller yang ada di layar. "Tora" terlihat dengan jelas di layar itu. Perasaan Bram yang semula bahagia, berubah menjadi redup. Lalu secara tiba-tiba J datang dari arah belakang dan segera mengambil smartphonenya. Bram melihat mata J berbinar saat berbicara di telepon. Bram tahu bahwa nampaknya J semakin dekat dengan Tora. Keraguan semakin muncul di hati Bram untuk bisa menyatakan perasaannya kepada J.

Tidak lama kemudian, J terlihat mengakhir pembicaraannya dengan Tora di telepon dan dari mukanya terlihat senyum manis yang Bram dambakan. Bram paham bahwa hal itu merupakan pertanda bahwa lagi-lagi J semakin tertarik kepada Tora. Juga, lagi-lagi Bram tidak bisa melakukan apapun mengenai hal itu karena Bram pun masih ragu dengan dirinya.

"Bram, tau ga?" tanya J kepada Bram.

"Engga, apa tuuh?" balas Bram singkat.

"Jadinya Tora nanti jemput! Yay! Tapi agak maleman sih, soalnya dia masih ada pekerjaan yang harus dia selesain. Tapi kalo Bram abis makan mau pulang gak apa-apa kok."

 Bram mengangguk kecil sambil tersenyum mengiyakan pernyataan dari J. Beberapa saat kemudian, makanan datang. Mereka makan bersama sambil membicarakan banyak hal. Mulai dari kerjaan, kehidupan secara umum, hingga bernostalgia mengenai hal-hal yang mereka suka sejak kecil. Sempurna, adalah satu kata yang Bram bisa ungkapkan kepada dirinya. Momen seperti ini adalah sebuah momen yang sudah Bram tunggu lama. Bisa menghabiskan waktu berdua, mengenal satu sama lain lebih jauh.

Seperti kata pepatah, waktu cepat berlalu saat kita bersenang-senang. Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Bram melihat ke arah J yang sedang mengecek smartphone nya. Ternyata Tora sudah ada di depan gedung kantor. J yang terlihat sangat bahagia mengetahui bahwa Tora sudah ada di depan, J dengan terburu-buru merapikan barang-barangnya dan bergegas untuk menghampiri Tora. Tidak lupa J pamit dan berterimakasih kepada Bram yang sudah menemaninya hingga Tora jemput.

Bram memutuskan untuk merapikan bekas makannya dan segera bergegas pulang. Malam itu sungguh menjadi malam yang cukup membingungkan untuk Bram. Kali ini Bram merasa kalah.

Comments

Popular Posts