Menjadi Seorang LGBT Di Indonesia - Part 4 (Dating a really nice and smart guy for almost a year)
So, waktu itu tahun 2016. Titik dimana karir gue sedang tidak jelas mau dibawa kemana. Gue baru aja putus kontrak dari tempat kerja gue yang gue pikir menjadi tempat kerja impian gue, namun ternyata takdir berkata lain. Gue ternyata tidak cukup ahli dalam melakukan pekerjaan itu. Ya, gue sangat suka, namun ternyata ilmu dasarnya gue kurang mengusai. Anyway, di saat gue sedang luntang lantung, gue kenalan sama seseorang. Awalnya gue biasa aja, karena ya gue terlalu sering ketemu dengan banyak orang di dating apps yang berujung dengan kekecewaan atau pure nafsu.
Dengan awal yang biasa, ternyata orang ini bisa membawa pembicaraan menjadi tidak membosankan dan datar. Setiap apa yang kita bicarakan selalu menjadi sebuah obrolan seru yang terkadang dengan tidak gue sangka bisa memakan waktu hingga berjam-jam. Karena obrolan yang seru itu, akhirnya kita memutuskan untuk kopi darat. Waktu itu kita ketemu di sebuah daerah di Tangerang Selatan. Sebuah kota yang cukup pesat perkembangannya. Awal bertemu, gue bilang kalo gue lagi di resto ayam goreng, karena gue belum makan malam, so gue makan.
Ya, gue makan sendirian karena dia bilang kalau dia udah makan. Gak lama, dia dateng. Hal yang gue notice pertama kali adalah senyumnya. He has the most charming smile. Matanya tertutup setiap kali dia senyum. Dan gue rasa, itu adalah pertama kalinya gue jatuh cinta sama dia. Hahaha, I know, what a weak heart I have, but that is true. Love at a first sight. Kita ngobrol banyak, dan ternyata obrolan kita sama seperti di chat, nyambung. Chemistry yang gue rasakan dengan dia sungguh mudah. Ga perlu usaha banyak untuk ngobrolin suatu hal berjam-jam.
Karena gue udah kelar makan, tapi kita masih mau ngobrol-ngobrol, kita memutuskan untuk pindah ke Dunkin Donuts. Disitu gue pesen jus jeruk kalo ga salah, dan dia pesen kopi. Obrolan pun terus berlanjut dengan serunya. Lalu di satu saat, dia lagi survey jalur dia balik ke kosannya di daerah Tangerang yang ternyata lokasinya cukup jauh. "Eh, ini kan jalurnya? Lewat sini kan?" tanya dia sambil menyodorkan smartphonenya ke gue. Secara ga sengaja, tangan kita bersenggolan. Karena gue emang nakal, gue elus-elus tangannya sambil dengerin dia jelasin jalur dia pulang. Saat gue elus, dia sempet berhenti ngomong, dan kayak kaget gitu, lalu dia lihat ke arah gue dan senyum. Ugh, that smile again! Stop! Hahaha.
Tibalah kita di penghujung waktu ketemuan karena jam sudah menunjukkan pukul 10 lewat. Gue juga ga mau dia kemaleman balik ke kosannya karena jaraknya juga lumayan. So, kita say goodbye ke satu sama lain dan kita berpisah. Setelah ketemuan pertama itu, somehow obrolan kita semakin dekat dan semakin akrab. Kita terus komunikasi setiap hari tanpa henti. Di satu sisi gue seneng banget karena punya orang yang bisa gue ajak ngobrol tentang apapun namun ga ngebuat gue emosi. Gue yang dulu waktu masih 20an cepet banget emosi. Tapi, dia ngebuat gue tenang.
Suatu hari gue yang masih nganggur ini berencana untuk melakukan interview jam 8 pagi di sebuah bank swasta. Namun, di perjalanan ke sana, gue berhenti dan mampir di tongkrongan kampus gue. Ya, kebetulan lewat, makanya mampir untuk ngopi. Saat gue lagi ngopi sendirian, gue memutuskan untuk telepon orang yang akan interview gue dan membatalkan interview nya dengan alasan sakit. Gak lama, tiba-tiba salah satu temen kampus gue dateng. Kita berakhir ngobrol dan update kehidupan. Ternyata tempat dia kerja sekarang lagi nyari assisstant project coordinator yang modalnya bisa bahasa Inggris.
Singkat cerita gue keterima dan bekerja di tempat temen gue kerja. Tempatnya adalah salah satu departemen di pemerintahan. Namun gue hanya kontrak tiga bulan. Hehehe. Anyway, selama tiga bulan gue kerja, gue semakin deket sama dia. Beberapa kali kita pergi kencan. Salah satu kencan yang gue inget adalah, kita ke sebuah "sauna" berdua karena kita mau nyobain rasanya ke sauna itu berdua. Oh, my, goodness. It was the best experience. Kita yang udah kenal beberapa bulan saat itu memang kebetulan belum sempet untuk berhubungan seks dikarenakan memang belum ada kesempatannya dan kita ga punya tempat untuk bisa melakukan itu. So, our first encounter yaa di sauna itu.
I feel the love when we did it. He really being gentle with me. Gue yang udah suka, jadi sayang sama dia di kencan itu. Lalu, kelar dari sauna, kita makan pecel ayam di sebuah daerah di Jakarta Selatan. Pas udah kelar makan, tiba-tiba notifikasi dating app gue bunyi dengan kencengnya. Gue bener-bener lupa untuk matiin notif. Lalu dia sempet kayak diem gitu. Gue jujur disitu ga enak banget karena gue juga udah lama ga buka app itu, namun tiba-tiba bunyi. Shit.
"Maaf yaa, aku belum hapus app nya. Aku juga udah lama kok ga main." gue berusaha menjelaskan.
"Iyaa, gpp kok, santai aja. Aku juga udah lama ga main app."
Gue inget kalo dia sempet ngomong kalo dia tetep akan punya app walau kita udah deket karena untuk dia, app itu untuk cari temen ngobrol. Karena dia sangat discreet terhadap lingkungan sekitarnya.
"Lho, kamu kenapa ga main appnya lagi?" tanya gue dengan polos.
"Iya, udah aku uninstall." Jawab dia singkat.
"Uninstall? Katanya kamu butuh app itu untuk cari temen ngobrol?"
"Ya kan udah ada kamu, jadi app itu udah ga guna."
DEG! I really wanna scream really loud to him, "I LOVE YOU, STARK!"
Kita sebut dia Stark yaa. Karena gue suka banget Ironman.
Anyway, sejak saat itu, we call each other boyfriends. Kita pacaran setahun kurang seminggu. Selama 6 bulan pertama, everything feels magical, I really loved him so much. And he give me what I need. Namun di 6 bulan setelahnya, kita mulai sering berantem. Mulai dari hal sepele sampe hal yang memang besar. Intinya, wajar lah pasangan berantem. Namun, saat itu, gue adalah orang yang gampang banget overthinking akan hal2 yang belum tentu terjadi. Karena overthiking gue, membuat gue jadi jahat.
Gue selingkuh dari dia. Gue selingkuh karena gue berpikir dia ga sayang sama gue. Saat itu, gue ga tau apa yang terjadi sama gue. Disitu gue bener-bener trauma. Sampe saat ini pun, gue masih bisa ngerasain ga enaknya kondisi seperti itu. Sampe akhirnya dia tahu kalo gue selingkuh dan dia memutuskan untuk udahan sama gue.
Gue ga akan cerita banyak mengenai masalahnya apa karena buat gue useless juga sih untuk dibahas. Semua udah terjadi. Ya, gue masih ada sedikit rasa sayang sama dia. Bahkan gue move on nya lama banget. Sampe panic attack beberapa kali karena trauma. 2017-2018 adalah masa-masa terberat gue.
Yang gue tau sekarang dia udah punya pacar, udah 5 tahun lebih kayaknya pacarannya. Entah. Sekarang udah ga pernah chat lagi. Mungkin gue akan kirim link ini blog ini ke dia. Hehehe. Anyway, itu dia (sedikit) cerita gue ketemu dan pacaran sama really nice and smart guy.
Comments
Post a Comment